satu malam di badan Pohon paling cantik dan paling ramping

namaku: Angin. Tuhan merahasiakan siapa ayah juga ibuku sejak aku lahir. satu-satunya hal yang bisa kupahami utuh, aku ditempatkan di sebuah Rumah yang jauh, sangat jauh, nun di Ujung Cakrawala itu, hidup bersama Laut. untuk bisa segera menemukannya pun kau belum tentu mampu. namun di sana aku disayangi utuh oleh Batari Ibu dan Poseidon yang sangat hapal apa saja kesukaanku.

namaku: Angin. Tuhan memintaku meninggalkan semua kenyamanan sebagai bentuk bakti dan pemenuhan takdir. ditugaskanNya aku membawakan pesan, kebenaran-kebenaran, dari satu tempat ke tempat lain tanpa terkecuali. aku suka, sangat bisa menikmati kesemuanya, meski tak bisa berdusta aku pun terkadang sangat muak lalu memberontak dan pulang ke Ujung Cakrawala sesukaku saja.

dan malam ini, tepat ketika Candra lembut memetik Dawai-dawai Gitar Udara, sehingga tenanglah aku mengalun bersamanya, terdengarlah lantun Doa-doa. aku pikir dari mana. ternyata dari para Dedaunan lah asalnya. di setiap puncak saat Bintang-bintang menguatkan diri sebagai Penghuni Tertinggi Lapis-lapis Semesta, seluruh Doa yang dititipkan pada setiap lembar Daun milik semua Pepohonan menguap naik menuju Keranjang Besar di sisian Tuhan sana. aku tak diizinkan berdiam terpana. aku diharuskan menari di antara mereka. katanya, “Pembawa Pesan pun adalah Pengiring Hantaran Doa-doa, Mungil.”

namaku: Angin. Tuhan memang terlalu baik dan senang membiarkanku mengetahui apa yang menurut pikirku tak sepantasnya aku ketahui. ketika sempat aku terengah, Tuhan menggamitku dan kami sama duduk di satu badan Pohon paling cantik dan paling ramping. “Mungil, ingat-ingatlah satu pesanku ini. jika kapan nanti dalam perjalananmu kau terengah lagi, ambillah tempat yang paling kau sukai, pilih Pohon yang kau sukai. diam-diamlah, atur nafasmu, nikmati saja apa-apa yang terlihat walau bisa jadi sama sekali tak pernah ada kau pinta. jangan bersuara, jangan cepat-cepat kembali bergerak, amati baik-baik kesemuanya. aku yakin kau akan mengerti tanpa perlu aku bersuara lagi.”

namaku: Angin. aku tak tahu, tak mau meraba terlalu yakin pasti, takut terjebak salah lalu sombong nanti. apa Tuhan benar sebegitu peduli pada si Pengantar Pesan yang tak pernah suka banyak kekangan ini?

(foto oleh Oman Abdurahman)
(foto oleh Oman Abdurahman)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s