masih tentang sebuah luka

aku baru usai memanjakan sebuah luka yang keras berdenyut sejak bulan ini bermula. semakin ingin kuabaikan, semakin sakit ia. semakin diikuti denyutnya, semakin terbuka lapisan-lapisan penyembuhnya dan dipenuhi kutuklah rasaku sebagai pemiliknya. maka aku pergi, pamit sebentar, menghadapi bekas luka itu dengan ksatria, berharap ia bersedia tak terus mencengkeram kewarasanku dengan ketakutan yang semestinya sudah lama berpindah warangka. tak ada hal lain aku bisa. tak ada hal lain aku bisa.

aku baru usai memanjakan sebuah luka yang keras berdenyut dan tak pernah sedetik pun aku pinta dalam perjalanan usia. ini tak akan mudah. memang hal macam ini sudah kusadar tak akan pernah mudah. tapi aku belum mau menyerah, aku tak rela kalah pada segala pikiran yang kekasihku bilang sungguh tak pada tempatnya. jika ia (Tuan Bumi) percaya aku sungguh bisa, jika Langit pun tak kehabisan akal terus berusaha mengembalikan senyumku sebanyak biasa, jika Udara tak henti mengaliriku dengan daya yang tak pernah kuduga, maka apa sungguh yakin akan terus berulang tanpa jeda aku meminta pada Tuhan agar tak perlu berpikir panjang memotong denyut jantungku tepat di saat ini juga?

aku baru usai memanjakan sebuah luka yang membuatku terlompat-lompat ke setahun belakang sekaligus memaksaku hidup nyata di sebuah sekarang. aku sadar ini tak akan mudah, tapi aku tidak mau menyerah.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s