gigi lagi, gigi lagi

ketika saya berniat mempopulerkan “gigi patah” sebagai trend terbaru kecantikan, tidak kehilangan bangga karena berkesempatan merasakan memilikinya, reaksi yang saya terima adalah ekspresi “duh! please, jangan dong, kuk!” dibumbui air-muka pewakil rasa ngilu. ya sudah, saya batalkan. padahal sudah terbayang akan begitu seru dengan bertambahnya satu variabel yang berangkat dari sebuah ketidaksempurnaan bentuk.

ketika saya bermaksud menjaga perasaan dan penglihatan sekitar, menghindarkan (utamanya) yang mudah terpancing ngilu dengan tetap memasang wajah bergigi utuh, celetukannya tetap saja balik ke gigi lagi ke gigi lagi. padahal apa susahnya diam menerima, toh gigi patah itu nantinya (jika saya tidak keburu meninggal dunia) akan dikembalikan ke bentuk semula dengan alasan lebih dari sekedar estetika (belum semua dari kalian tahu kan rasanya tidak bisa membuka kemasan plastik dengan menggigit, tidak bisa meresapi fase-fase kenikmatan di saat makan makanan yang kalian sukai).

maka: terserah saja. sungguh tidak lah saya punya alasan untuk berhenti bersenang-senang hanya karena ributnya orang-orang. saya masih ada banyak tugas yang belum diselesaikan. sesungguhnya gigi patah tidak serta merta membuat Tuhan memberi pengecualian juga beratus-ratus pemakluman yang berbuntut cuti berkepanjangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s