tujuh ribu tujuh. tujuh ribu delapan. tujuh ribu sembilan.

tujuh ribu tujuh. sekali lagi aku melintasi Kakek Tertua Keluarga Pohon di Hutan ini. arif lengkung senyum tak pernah luput ia suguhkan. membuatku ingin lebih dari sekedar mendekat dan mengulurkan tangan merasai jejak kulit keriput yang terlalu jauh dari kesan ketakgagahan. tapi aku tak pernah bisa lupa pesan Ayah untuk jangan sampai mendekatinya lebih dari seuluran tangan, untuk jangan sampai tiba di jarak peluk, meski sungguh ingin aku menyatakan sayang padanya yang sudah tak lagi punya keturunan sedarah padahal masih terjaga hiduplah lain-lain Pohon disekelilingnya.

tujuh ribu delapan. aku berbalik arah demi ingin melintasi Kakek Tertua Keluarga Pohon di Hutan ini. sepasang matanya jauh lebih terbuka dan senyumnya berubah gelagat waspada terhadap keingintahuanku yang kadang tak terkendali arah liar tumbuhnya. membuatku mengambil jarak dua kali uluran tangan, namun tak mampu menahan godaan untuk tengadah, memperkirakan di mana gerangan ujung pucuk tertinggi Kakek Pohon tepat menusuk Langit. dan aku tak pernah boleh lupa pesan Ayah untuk tidak melanjutkan kepenasaran itu hingga tiba nanti masanya umurku terketuk tegas di hitungan seperempat abad, meski sungguh ingin aku menguji seberapa sanggup aku menjawab dan menjalani pertanyaan-pertanyaanku sendiri demi (mungkin) selarik jawaban.

tujuh ribu sembilan. aku kembali langkah pada arah pulang. sekali lagi melintasi Kakek Tertua Keluarga Pohon di Hutan ini. sepasang matanya kentara terbuka dan bibirnya membentuk garis yang terbaca sebagai keharusan tak boleh dibantah. ia tak perlu bersuara untuk bicara. aku sudah sangat jelas mendengarnya sebagaimana titah Ayah untuk tak melanggar apa pun sampai genap aku duapuluh lima. aku masih tak bisa menahan goda untuk setengah tengadah dalam laju langkah yang memang menuju ke Rumah. aku membayangkan Bidadari macam apa yang menantiku di sana. ataukah justru sebaliknya? entahlah. aku segera mendengar dengan jelas sekali Kakek Pohon berkata, “kau jangan terlalu banyak menduga-duga, Muda.” hingga aku tersandung dan terpaksa tak lagi berbalik arah.

– – – – – – –
*sebuah interpretasi-foto terhadap karya mas Bambang Kusyanto

(foto oleh Bambang Kusyanto)
(foto oleh Bambang Kusyanto)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s