apa rasanya jika kita kehilangan Langit?

apa rasanya jika kita kehilangan Langit?

seluruh Awan itu tak lagi bisa berpegangan pada Udara, dan derak-derak-retak membahana mengalahkan garang Halilintar dan sesumbar Badai. sementara Matahari hanya diam mengamati. tak boleh mengulurkan tangan membantu, tak juga boleh berkata apa pun pinta di bibir. Manusia akan tiba masa dikenalkan pada lebih dari sekedar Hujan. melainkan Debu-debu yang berasal dari reruntuhan Langit beriring derai sesal Matahari dan derai airmata Bulan.

aku tak melihat Darah. semua sudah tak lagi berhak atas apa pun Warna. Kehidupan dikembalikan pada mula untuk sampai pada mula berikutnya. tapi, aku tak kuasa membayangkan, apa rasanya jika kita kehilangan Langit? karena membayangkannya saja, melihat semua terjadi sebatas di dalam pikiran dan mata, sangat menyiksasesakkan dada. aku tak suka.

semenit..

dua..

lima menit..

tujuh sudah..

apa rasanya jika kita kehilangan Laut yang memilih berbakti pada Matahari, menguap begitu saja pergi? apa rasanya jika Udara sibuk mengurusi kaumnya sendiri dan tak mau lagi memenuhi setiap ruang paru Warga Semesta lainnya? apa rasanya jika aku sendiri tidak mengerti kenapa semua itu lalu-lalang dalam kepala dan mata ku tanpa jeda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s