kisah Ilalang tunggal

pernahkah kau bayangkan Ilalang itu tunggal? tertinggal sendiri ketika semua kaumnya sebagian musnah lalu sebagian memilih pergi tanpa peduli siapa yang terbawa dan siapa yang tak tergenggam.

ingin ikut nimbrung dengan para Gunung, suaranya terlalu kecil hingga tak ada yang bersedia mencoba sedikit saja mendengar. ingin bergabung dengan canda Pepohonan, dia harus bersaing dengan Bunga-bunga yang tak ingin kalah dipesonakan. dia dibiarkan merasa tak punya siapa-siapa dan tak boleh jadi bagian siapa-siapa.

airmata sudah habis sejak hari dibiarkannya dia terlepas dari kaumnya. ketika menengadah, ingin meminta berbincang dengan Matahari, tapi sungkan karena segera sadar sekian hal semestinya.

tapi, tahukah kau tepat di saat itu Awan-awan mengelus lembut pipi Ilalang dan Langit menyodorkan tangan untuk menggambar selengkungan senyum di sana? mereka bilang, “jangan cemas, kau tak pernah benar-benar sendirian.”

– – – – – – –
*sebuah interpretasi terhadap karya foto dari Rachmat Fajar

(foto oleh Rachmat Fajar)
(foto oleh Rachmat Fajar)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s