masa mengintip Kelana

membaca punggungmu, Kelana, hanya mengundang lebih dari belasan tanya juga puluhan duga. kenapa kau suka berdiam seperti itu begitu lama? kenapa masih saja kau suka memikirkan sekian banyak hal yang justru tak ada Manusia mau memikirkannya? Rerumputan yang membingkai sebentukanmu sibuk menenangkan agar aku menghilangkan saja semua sangka-sangka. mereka bilang kau sedang menggenapkan diri demi seutuhnya menjelma Pertapa.

mendengarkan bisumu, Kelana, hanya meresahkan lalu menyalalah Api memanaskan jantung dan terlepaslah arus liar darah macam Sungai mengamuk meminta kebebasannya. sampai kapan kau akan mengabaikanku, Kelana? sampai kapan kau terus mendengarkan Angin dan Pepohonan menyampaikan lebih dari ribuan Petuah? Rerumputan yang terus menahan gerakku mulai tajam menatap tanpa iba dan lantang berkata, “kau tak akan mampu menahannya menjadi Pertapa. itu takdirnya. kau tak boleh mengusik dengan kecemasan-kecemasan khas Manusia.”

– – – – – – –
*sebuah interpretasi terhadap karya foto dari Al Hadi Hamrah

(foto oleh Al Hadi Hamrah)
(foto oleh Al Hadi Hamrah)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s