jangan pernah lewatkan Pagi meski dari dalam sekotak Kereta Api

terlepas dari rasa macam apa yang hadir pertama kali — rindu atau benci. lepas atau muak. bahagia atau nyeri. terkuras atau terpenuhi. sekarat atau terhidupi — jangan lupa lah engkau, Nak, untuk selalu menyambut Pagi.

biarkan tubuhmu mengenali luas Langit. tanamkan dalam jiwamu pasal perlunya tak henti menghargai. relakan senyummu membenamkan seluruh Semesta yang dingin dalam selembar hangat Ketulusan yang pantas diterima bahkan oleh sebuah Pagi.

terlepas dari kesusahan macam apa yang masih harus kau tanggungkan nun di dalam hati, jangan pernah lupa lah engkau, Nak, untuk selalu menyambut Pagi.

meski nyaris habis darahmu dihisapi oleh Inti Bumi. meski Awan-awan Hitam yang justru datang berarak tak mau sedikit pun berhenti menyelimuti. meski garang Badai meluluhlantakkan bahkan sehelai Berani. meski semua ternyata kau dapati hanya dari dalam sekotak Kereta Api.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s