kehangatan Rumah Kayu

mungkin baru akan setahun aku mengenali semacam kehangatan di sini. terkagum dengan sosok Pak Kobayashi (Fendi Siregar). tersapu lembut rupa-rupa kasih dari Mbak Mei, Mbak Esther, Mbak Vivera, Bunday, dan masih banyaaaak “Mama-mama” dalam istilah Mbak Lala — di antara rapatnya kecemasan dalam perjalanan pulang seusai menyesap habis keindahan Bromo dan Malang di itu lalu hari. teriuhi warna-warni celoteh dan gurau bahkan dalam sebentuk tatap hening milik siapa-saja-dan-ternyata-pria dalam Keluarga yang satu ini.

ketika aku dihadapkan pada kesempatan baik berkenalan langsung dengan Rumah Kayu yang menjadi kediaman seluruh kami, aku tak bersedia menukarnya dengan apa pun lagi. aku berketetapan hati untuk pergi dan tentunya sudah seizin Tuan Bumi. ia sudah menjadi satu dari sedikit yang paling memahami betapa aku menyukai berkelana dalam Dunia Kecil yang didefinisikan sebagai Fotografi. ia pun tak merasa terusik risih setiap aku yakin telah menemukan tempat mana yang tepat untuk memenuhi kebutuhan mengisi diri dengan apa saja yang ingin aku kenali dan ketahui.

aku mencari tahu Cijerokaso dalam secarik Peta Rupa Bumi. aku menelusuri Angkutan Umum apa yang sekiranya mampu membuatku mendekat menghampiri. aku dengan sangat serius menahan godaan-godaan pecicilan demi (nyaris) dua hari yang ingin aku habiskan bersama dengan mereka yang diam-diam bisa juga aku rindui. lalu si Gigi? emmmm, aku sudah bertekad akan tetap memamerkannya dengan senang hati, hihi.

mungkin baru akan setahun aku mengenali semacam kehangatan di sini. sebuah Piano tua berdebu dengan dua tuts tak lagi mengetuk bunyi diam manis di satu sudut menjanjikan keyakinan cerah Matahari. setumpuk Kaset-kaset lama yang sibuk menarik si Ingin agar mendengarkannya ulang entah hingga berapa kali. luas Kotak-kotak dalam Segitiga Jendela Kaca dengan sesosok Pangeran Pohon yang sibuk tebar-tebar pesona penuh percaya diri. canda-tawa-sapa yang menggenapkan tiap bait pelajaran dari Ibu Ken Atik perihal Nirmana sore ini. bahkan berpetak-petak berbobot bertajuk Cokelat yang khusus dibawa dari Singapura oleh Hadi. semua kami jelas sah berpesta dalam sebuah Rumah Kayu yang begitu kaya Pelangi.

kehangatan ini tak ingin kutukar ganti. sebenar-benarnya kehangatan semacam ini akan kusimpanjaga dengan aman rapat di dalam hati. sampai entah kapan nanti. semoga hingga entah kapan nanti.

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)

– – – – – – – –
waktu ngabuburit bersama Rumah Kayu Fotografi dalam Rumah Kayu itu sendiri. pada Nirmana membuka diri. dalam Cokelat kami bersuka hati. dalam 20 di sebuah Juli tahun ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s