“mau ditengok?”

seperti yang sudah-sudah, ia lebih suka membahasakan Cinta dengan perbuatan, dengan kehadiran. dalam tumpukan deadline yang saling bertubrukan itu, tiba-tiba ia mengabari dengan sebuah pertanyaan sederhana, “mau ditengok?“. lalu, sembari menahan diri untuk tidak sejijingkrakan hati, dengan mengangguk-angguk senang — dan rasanya itu wajar terjadi bila mengingat kapan tanggal terakhir kami bertemu — aku langsung membalas pesan singkat tersebut dengan sekata “mau“. tak ada awal dan akhir selain “mau”.

meski butuh waktu lebih dari tiga puluh menit, meski aku tahu ia harus berbuka puasa dulu (dan pasti sudah langsung menyantap seporsi makanan relatif berat), aku dengan manisnya menunggu. klak-klik-cetak-cetik. buka ruang dialog sana. baca ulang hal-hal yang ingin aku bahas dengannya sehubungan dengan kegiatan yang sedang kami tangani bersama. sesungguhnya dadaku bergemuruh minta segera diredam henti dengan seulas senyum yang sudah cukup lama menghiasi mimpi, pengantar tidur, juga sebagai penyambut bangun pagi. dan.. tok tok tok.. tiba-tiba ia sudah bersinar dalam raut letih yang sama sekali tak bisa ditutupi.

seperti yang sudah-sudah, ia lebih suka membahasakan Cinta dengan kata-kata yang tak berlebihan, sama sekali tak puitis. agak lama dipandanginya aku sampai terasa salah tingkah jadinya. mau tak mau melebar tanpa aral lah senyumku. tepat di saat itu aku tahu pemandangan macam apa yang akan tersaji, “hayooo, jangan ngetawain yaa.”, pintaku bersyarat dan ditingkahi senyum menahan geli berkarung. ia diam, memandangiku, tersenyum, diam, tak terbaca reaksi “malu” demi melihat penampakan terbaruku. “udah. dipotong juga aja gigi satunya. disamaratain sama yang patah.“, ucapnya tanpa tertawa tanpa terkekeh selain tulus tersenyum.

meski kemudian aku harus rela jika menit-menit diberi batasan, meski semua hal yang masuk dalam daftar “harus segera dibicarakan” sesungguhnya begitu panjang, aku dengan riangnya berceloteh dan ia menyimak dengan tenang. kami berdiskusi. kami memutuskan itu-ini. peran kami terus berganti-ganti, bukan semata terkurung pada hubungan cinta-mencintai. dan pertanyaan — sebenarnya sih permintaan tersirat, hehehe — kemudian meluncur sederhana, “mau nemenin aku makan nggak?

seperti yang sudah-sudah, ia lebih suka membahasakan Cinta dengan hal nyata yang bisa dilakukan, yang bukan angan-angan. beberapa menit sesudah pertanyaanku hadir, ia bersiap mengenakan Jaket yang tadi digantungkannya rapi di pintu. “mau makan apa? di mana?” menjadi pengantar perjalanan kami menuju sebuah Warung Tenda di tepi jalan tak jauh dari tempatku tinggal.

meski katanya ia sudah makan — entah benar lapar mata seperti alasannya yang sudah-sudah atau memang karena ingin menemaniku saja — seporsi Soto Ayam hangat berteman sepiring Nasi Putih yang aku pilih entah kenapa ia pilih juga. cerita-cerita kembali mengalir: tentang pekerjaan, tentang status pekerjaan, tentang karir, tentang kemungkinan-kemungkinan. Ibu Penjual Makanan Langganan tersenyum dari seberang meja, melihat kami terus berbincang, dan aku yang tanpa malu tak menutupi sedikit pun keberadaan si Gigi Patah itu.

seperti yang sudah-sudah, ia lebih suka membahasakan Cinta dengan porsi secukup ketersediaan Waktu yang kami punya. ketika ia menghilang bersama deru Motor Hijau Telur Asin-nya, ketika Ibu Penjual Makanan Langganan melepaskanku dengan lambaian, tiba-tiba teringat satu hal: aku belum mengucapkan terima kasih padanya yang telah berbulan lamanya menghidupi hatiku.

(image-source: ohsobeautifulpaper.com/)
(image-source: ohsobeautifulpaper.com/)

– – – – – – –
Jumat Malam. Bulan sudah lewat setengah. masih Ramadhan. ketika Tuan Bumi yang kekasih menghentikan bermenit Waktu agar bersama menjadi kenyataan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s