rindu. sekali. sampai terasa nyeri.

terlahir dengan nama Ja’fari Hardjo Prajitno di 1 Januari sekitar akhir 1920an. lebih dikenal sebagai Djampari HP di perantauannya belakangan. seorang mantan Polisi Militer pemilik sekeping Bintang Gerilya tertampan yang pernah aku kenal di sepanjang kebersamaan kami yang hitungannya hanya sampai di belasan tahun.

Orang-orang terdahulu bilang kalau aku ini cucu kesayangannya. bukan hanya karena Beliau satu-satunya orang yang aku rindukan pelukannya sebagai pengantar tidur. bukan cuma karena Beliau satu-satunya orang yang banyak menungguiku setiap sakit, meski sekedar duduk di pinggir tempat tidur atau membaluri punggungku dengan Minyak Kayu Putih. aku ingat, aku selalu dibawa ke mana saja sehabis dijemput pulang dari sekolah, diajak berkenalan bahkan hingga dengan Tukang Tengteng di pinggir Lapangan Merdeka. aku dihadiahinya Sepeda BMX sampai Sepeda Balap, tak pernah dilarang belajar main Layangan, diizinkan pula ikut Abang-abang Tetangga main Guli (Gundu), bahkan tak alpa diajak nonton Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, hingga diikutkan Les Tari Jawa Privat.

tapi jangan salah, Beliau juga bisa sangat sangat galak tiap kali aku ketahuan melarikan diri, lompat dari jendela kamar, pergi bermain dengan Teman-teman Kompleks di jam tidur siang. Beliau pun akan berubah galak jika aku ketahuan menonton Film Tengah Malam yang jenisnya bukan Film Akhir Pekan. pernah pula Beliau sangat sangat marah ketika aku dengan nekad pulang dengan Mang Becak yang belum pernah dikenal seusai perayaan ulang tahun seorang Kawan di sekolah (masa Taman Kanak-kanak), bukannya menunggu jemputan dengan sabar.

aku adalah satu-satunya orang yang jatuh sakit ketika Bapak (begitu aku memanggilnya, meski Beliau adalah Kakek-ku — ayahnya Mama) pergi. lebih dari seminggu terus-menerus demam tinggi dengan nyeri di kepala dan jantung yang rasanya tak bisa berhenti. padahal saat itu aku sudah di kelas 6 SD, sudah harus lebih bisa berkonsentrasi dengan kelulusan menjelang SMP. padahal ketika mendengar kepergiannya, dalam perjalanan menuju Medan, bahkan ketika terus duduk manis di samping jenazahnya, tak sedikit pun aku menangis. karena aku sudah berjanji, karena kami punya janji.

saat ini aku sedang rindu sekali. sejak semalam rasanya semua kembali sama nyeri seperti 20an tahun lalu. aku sedang ingin sekali berjalan berdampingan dan saling bergandeng tangan keliling Taman Ria sambil mampir jajan sana-sini. rindu sekali. sangat rindu sekali. sampai terasa nyeri.

bisa jadi Waktu adalah Penyembuh bagi sebentuk Luka. tapi sepertinya Waktu tak bisa membisukan polah segerombolan Rindu selamanya.

Ja'fari Hardjo Prajitno
Ja’fari Hardjo Prajitno
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s