terbawa kenang (Tuan Tak Bernama)

tiba-tiba aku ingat Tuan Tak Bernama di sederetan panjang alunan dan tingkah Nada. aku teringat jelas kata-katanya yang pernah memenuhi murni ketakberdayaan. ia yang biasa begitu keras mendidik beralih melembut di itu masa.

katanya (sembari menyabarkanku dengan elusan lembut di kepala yang penuh dentum-dentum membahana),

“kau, perempuan kecil paling keras kepala yang pernah aku kenal. benar-benar watu gunung. benar-benar belum akan berhenti jika belum ambruk sekarat tak berdaya. tapi aku bisa apa? mencegahmu bukan hal yang selalu baik karena itulah kau, mungil. bahkan sebenarnya aku cemburu padamu. cemburu pada keberanianmu untuk tetap jadi dirimu, tetap memelihara duniamu, tetap meliarkan pikiranmu. cemburu melebihi kecemasanku setiap kali pola pikir lompat-lompatmu itu kau utarakan dengan nekad di hadapan banyak orang. aku sendiri belum tentu memahamimu, tapi aku juga tak mau ada yang mengejekmu karena pandangan-pandanganmu itu.”

ia lalu terhenti sejenak. menatapi aku lekat-lekat. lalu tersenyum begitu hangat.

“namun setidaknya kini aku lega. mencoba mengenalmu sejauh ini dan dengan segala apa yang kutemukan selama beberapa hari ini, aku jadi lega. kapan pun nanti kita berpisah dan aku tak bisa lagi menjagamu seperti ini, aku tahu kau tak akan apa-apa, akan baik-baik saja. kau harus tahu, bukan lagi hanya aku yang sibuk kuatir dengan setiap langkah dan keputusanmu itu. mereka semua mencarimu. diam-diam memasang mata terhadapmu untukku. mereka bilang, mereka akan menjagamu setiap saat mereka mampu. kau harus tahu itu. diam-diam tak sedikit yang jatuh hati dan sayang padamu, mungil. karena kau yang dirimu, yang bikin aku cemburu itu.”

bisa kuingat wajahnya mendekati wajahku. tak bersentuhan namun tatapnya menghunjam tepat di tatapku.

“jangan merasa terus sendiri. kau tak pernah benar-benar sendiri. biarpun tak ada aku.”

– – – – – – –
hai, Tuan. segala tentangmu masih rapi terkubur di Time-Capsule dengan Kunci Tak Berpenentu. semoga kita bisa saling menepati janji untuk bertemu sebisanya nanti di Surga penuh harum Bunga dan Tarian Kupu-kupu. kau harus tahu, aku masih memenuhi permintaanmu untuk tak mudah bersedih dan menangis. aku tak mau membunuh Matahari 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s