Ibuku Angin

tidak hanya di setiap hari Minggu. Ayah selalu menyediakan diri untuk menikmati satu yang terekam dalam selembar foto itu. selalu senyum, selalu diikuti rindu, selalu binar yang ditutup tahanan bulir bening di sepasang mata menua enggan melesu.

awal ketidaktahuanku adalah tanya tentang, “siapa itu?”. lalu satu yang paling kuingat dari sebuah belasan tahun lalu adalah ia mengajakku duduk di pangkuan sembari mengecup ubun-ubunku. “ini Angin. dia ibu yang melahirkanmu. dia wanita yang mengambil seluruh rasa cintaku. bahkan ketika tepat di hari kelahiranmu itu dia moksa, seketika berubah menjadi Udara, tak pernah ingin dia berubah jadi kesedihan dan rasa sakitku. ini ibumu. ibu yang diam-diam selalu jadi kekuatan disekitarmu.”

tidak hanya selalu di setiap hari Minggu. Ayah selalu menyediakan hati untuk melintasi setiap kenangan yang terekam dalam selembar foto itu. selalu senyum, selalu diikuti rindu, selalu menarik rasa inginku mendekat dan bergelayutan manja di punggung menuanya nan harum.

“Ayah, apa aku seperti Ibu?”, tanyaku.

“kau seutuhnya ibumu dan aku, Ray.”

– – – – – – –
Taman Hutan Raya Djuanda, 23 Juni 2013

(foto oleh Neneng Lope)
(foto oleh Neneng Lope)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s