Sarapan Pagi

aku ini sebenarnya si Pemalas Bangun Pagi (selain si Pemalas Mandi dan malas-malas lainnya). tapi, entah kenapa, seringnya aku yang dibangunkan Pagi itu sendiri (boleh percaya, tidak pun tak apa). jika sudah begitu, maka aku sulit untuk menolak. aku akan tetap bangun dari posisi tidur, bersegera menemui Langit, lalu mulai mencari apa yang bisa aku jadikan Sarapan Pagi.

tidak harus rupa-rupa Jajanan Pasar atau seporsi Nasi Goreng Telur Dadar atau dua mangkuk Bubur Ayam dari si Mang yang bertahun-tahun masih rapi dan ganteng itu; Bacaan-bacaan menarik, Sajian Visual, bahkan Gubahan Nada juga adalah bagian dari Sarapan Pagi-ku.

dan kali ini, ternyata ada sajian menarik bergizi di timeline @Rhenald_Kasali. aku catat di sini, editing sedikit (khusus bagian yang disingkat) supaya lebih enak dibaca.

– – – – – – –

Good Morning. “Dunia yang kita hadapi ini adalah cerminan dari cara berpikir kita. Ia tak dapat diubah tanpa merubah cara berpikir” – Albert Einstein.

Menurut Thomas Alfa Edison, hanya 5 persen diantara kita – manusia – yang berpikir. Betul apa ngga ya? Mengapa demikian?

Ini kalimatnya: “Only 5% of the people think; 10% of the people think they think; the other 85% would rather die than think.” – Edison.

Jadi sepertinya untuk masuk ke yang 5 % ada banyak cara: (1) Harus berani cari sekolah yang bagus. Sekolah itu bisa dimana saja dengan cara belajar yang berbeda-beda.

(2) Sekolah itu bisa institusi sekolah, bisa juga non sekolah, termasuk menempa diri, menghadapi berbagai kesulitan tanpa bantuan keluarga.

(3) Setiap orang punya cara belajar yang berbeda-beda, yang jelas memorizing (menghafal) is not a good way of thinking.

(4) Berani bereksperimen dan kesasar adalah salah satu cara untuk menghidupkan kemampuan berpikir.

(5) Berpikir terbuka, mau menerima segala perbedaan pandangan, bahkan mengkoreksi diri adalah salah satu cara menghidupkan otak.

(6) Berdebat dengan menutup mata hati dapat mematikan logika, sehingga terperangkap dalam dogma.

(7) Melatih diri berpikir artinya mencari solusi-solusi baru, melihat “jendela” pada setiap dinding, atau tembok yang tinggi.

(8) Menyeting (setting) otak menjadi tumbuh artinya berani menghadapi tantangan baru, tidak cepat menyerah menghadapi kesulitan.

(9) Membaca buku-buku baru dengan pandangan-pandangan baru termasuk melatih berpikir, juga buku-buku lama yang merubah cara berpikir tentunya.

(10) Berbisnis atau melakukan usaha, berwirauaha jelas melatih berpikir, apalagi bila tak punya uang, koneksi dll.

(11) Mengambil pekerjaan dirantau jelas melatih berpikir untuk hidup.

(12) Bekerja di sektor-sektor kreatif pada bagian yang menuntut kreativitas seperti mnjadi wartawan, creative art, advertising, dll akan mengasah berpikir.

(13) Bekerja pada unit-unit yang rutin seperti pabrik dengan otomatisasi, menjadi PNS yang bekerja prosedural, atau bagian protokol, bisa mematikan cara berpikir.

(14) Bekerja di bagian accounting yang mengandalkan prosedur rutin juga mematikan creative thinking. Bagian Finance lebih dinamis.

(15) Berada di lingkungan “pedalaman” yang jarang berinteraksi dengan dunia luar atau orang-orang baru bisa menghambat kemampuan berpikir.

(16) Mengekspos diri pada orang-orang baru, berada di jajaran “pesisir” institusi kita, mengasah diri sehingga membuat kita selalu berpikir.

(17) Biasa mendikte anak apa yang harus dilakukan berarti membunuh cara bepikirnya, membuat ia lumpuh tak berpikir.

(18) Anak yang biasa menrima dikte keluarga, termasuk orangtua dapat membuat otaknya lumpuh. berontaklah bila perlu demi berpikir.

(19) Berontak dengan damai berbeda dengan amarah. Berontak dengan amarah hanya menghasilkan luka batin yang menyakitkan.

(20) Lingkungan pertemanan yang salah, yang dimanjakan atau yang cara berpikirnya sempit, dapat mematikan kemampuan berpikir. Keluarlah.

(21) Mengharapkan (bagi penerima) dan menjanjikan (bagi pembei) WARISAN dapat membuat manusia malas berpkir, hidup dari kaki sendiri.

(22) Jadi latihlah diri berpikir. Yang meletihkan itu menghafal, bukan berpikir. Berpikir itu fun dan pokoknya asyik deh.

(23) Orang yang berpikir tidak perlu dahinya berkerut, mukanya kecut. Yang berpikir itu banyak senyum, lucu, creative dan banyak teman.

Saya sedang di Auckland, New Zealand. selamat berpikir dan tetaplah terbuka, creative, tegas tapi banyak senyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s