ini jengah, ini gelisah

aku tidak habis pikir — atau mungkin sudah saja aku berhenti berpikir? — betapa membingungkan ketika Manusia-manusia mulai merasa berhak menjadi tuhan-tuhan mengatasnamakan TUHAN itu sendiri; merasa begitu mudah menempatkan dirinya sebagai yang termulia dengan melupakan siapa yang paling berhak menentukan derajat itu; memutarbalikkan Baik-Buruk Haram-Halal seenaknya dengan terus mengenakan Simbol-simbol memenuhi setiap Topeng yang begitu dibangga-bangga; mengurung Toleransi pada Tirani Wacana lalu sesumbar Kasih-sayang tanpa pernah kesemuanya itu jadi Detak dan Darahnya. apa yang dipikirkan? mengutamakan membangun neraka-sebelum-Neraka ketimbang memelihara surga-sebelum-Surga yang jelas bukan hanya Khayalan Terjemahan Mentah-mentah?

#jengah

TUHAN Maha Sabar; tapi siapa yang bisa menjamin Ia masih begitu sanggup bersabar demi melihat tuhan-tuhan bermunculan dengan begitu pongah menantang, menghilangkan keseimbangan, merusak harmoni, lupa asalnya?

#gelisah

aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang dapat tidur tenang ini malam. aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang bertemu harapan tentang impian berbunga indah juga bangun pagi yang sejuk tenang. Maha Pengasih TUHAN, sungguh penyayang Semesta. Maha Pelindung TUHAN, sungguh iklas bantu menjaga Semesta. mereduplah Api, menguaplah amis Darah, sirnalah Angkara. mereduplah Api, menguaplah amis Darah, sirnalah Angkara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s