menemukannya dalam Rumi

KEMBALILAH KE LANGIT

Setiap saat, sebuah seruan dari langit menyapa inti jiwa sang lelaki pencari: Sampai kapan engkau melekat ke bumi, seperti buih. Naiklah ke langit!

Mereka yang jiwanya berat tetap lekat menempel bagai buih; hanya jika termurnikan ia dapat mengalir ke atas.

Jika kau tak terus-menerus mengaduk tanah-liatmu, airmu akan perlahan menjernih, dan buihmu tercahayai, maka sakitmu terobati.

Seperti obor, hanya lebih banyak asapnya daripada apinya, asapnya menyebar kesana kemari, sehingga ruang di dalam jasmani, tempat jiwa terpenjara, tak lagi bersinar.

Jika kau hilangkan asapnya kau dapat nikmati kembali nyala api obor; tempatmu di semesta ini dan semesta-semesta mendatang akan terterangi oleh cahayamu itu.

Jika kau menatap pada air keruh, tak kelihatan disitu rembulan atau langit; matahari dan rembulan menghilang ketika kegelapan menyelimuti udara.

Dari utara angin bertiup menyibak udara hingga jernih; datangnya pada fajar hari, usapannya melapangkan dada.

Tiupan ruhaniyah melegakan dada menyingkirkan semua kesedihan; biarkanlah nafas berhenti barang sejenak, agar fana’ menggenggam, jiwa lebur dalam ketiadaan.

Sang Jiwa, warga asing pendatang di bumi ini, selalu rindu pada semesta ketiadaan; sambil heran mendapati jiwa hewaniyah begitu senang merumput di padang alam dunia.

Wahai Jiwa murni yang mulia, sampai kapan kau tinggal disini?

Engkaulah elang Sang Raja, kembalilah: penuhi isyarat panggilan Sang Penguasa.

– – – – – –
Sumber: Rumi: Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal 26.


# # #

RASA SAKIT: MENYIAPKAN HATI

Ketika rasa-sakit memasuki hati, dan menyergap rasa senangmu, ketahuilah, ia sedang menyiapkan jalan bagi datangnya kebahagiaan.

Cepat sekali rasa sakit menyapu bersih semua rasa lainnya, mengusir mereka keluar dari ruang hati; hingga tiba saat bahagia mendatangimu dari Sumber Kebaikan.

Ia merontokkan semua daun layu dari cabang-ranting hati, agar daun segar dapat tumbuh. Ia mencabut akar tua kesenangan, sehingga keriangan yang baru dapat berkunjung dari ke-Tiada-an.

Rasa sakit di hati membongkar akar kesenangan yang lapuk dan busuk, sehingga tiada kepalsuan tersembunyi.

Rasa sakit mencuci bersih hatimu, agar hal yang lebih baik dapat hadir menggantikannya.

– – – – – – –
Sumber: Rumi: Matsnavi V 3678 – 3683.

# # #

PESONA KEMATIAN

Barangsiapa terpesona pada kematian, dia bagaikan Jusuf, yang memberikan jiwanya demi tebusan; sebaliknya, yang menganggapnya bagaikan serigala, akan berpaling dari penyelamatan.

Anakku, kematian seseorang itu sesuai dengan sifat dirinya: bagi musuh Tuhan dia adalah musuh, bagi waliullah dia itu sahabat.

Di mata orang Turkoman cermin tampak terang; di mata orang Ethiopia cermin tampak gelap.Sesungguhnya ketakutanmu terhadap maut adalah ketakutanmu terhadap dirimu sendiri: lihatlah dari siapa engkau sedang melarikan diri.

Itu adalah keburukan dirimu sendiri, bukan wajah Sang maut: jiwamu bagaikan pohon, dan maut laksana dedaunan. Dia tumbuh darimu, apakah dia menjadi baik atau buruk: semua pikiranmu yang tersembunyi, jujur ataupun curang, lahir dari dirimu sendiri.

Jika engkau dilukai onak-duri, engkaulah penanamnya; jika engkau berpakaian satin-sutra, engkau sendirilah pemintalnya.

Ketahuilah bahwa perbuatan itu tidak sama dengan hasilnya; sebuah pelayanan tak selalu sama dengan upahnya. Upah pekerja tidak sama dengan kerjanya:  yang disebut terakhir adalah sosok-sementara,  sedangkan yang disebut pertama adalah substansinya.

Yang disebut terakhir tadi adalah usaha dan kerja-keras serta keringat, sedangkan yang pertama adalah emas, perak, dan hidangan.

Jika pemuja disini nampak berlutut atau bersujud, di alam baka akan menjadi Taman, al-Jannah.

Jika puja-puji terucap dari lisannya, Tuan Sang Fajar akan mengubahnya menjadi buah-buahan Surga.

– – – – – – –
Sumber: Rumi: Matsnavi III: 3438 – 3458

# # #

KETIKA DIUSUNG KERANDAKU

Ketika diusung kerandaku di hari kematian, janganlah menyangka hatiku berada di alam-dunia ini.

Janganlah menangisiku, dan menjerit, “kemalangan,kemalangan!”

Bisa-jadi malah engkau terjatuh kedalam jebakan syaithan: itu baru kemalangan.

Ketika engkau lihat jenazahku, janganlah engkau berseru, “perpisahan, perpisahan!”

Pertemuan dan penyatuan adalah milikku saat itu.

Ketika engkau masukkan aku ke liang lahat, janganlah engkau ucapkan, “selamat tinggal, selamat tinggal!”

Karena kubur bagiku hanyalah selembar hijab, yang menyembunyikan pelukan al-Jannah.

Setelah diturunkan ke lubang, tataplah kebangkitan; Tidaklah ditenggelamkan itu menyakiti matahari dan rembulan.

Tampak bagimu ia tenggelam, padahal itu suatu kebangkitan: Bagimu kubur adalah penjara, padahal itu pembebasan jiwa.

Bukankah bibit ditanamkan ke dalam bumi agar ia tumbuh?

Mengapa engkau ragukan harkat bibit insan?

Bukankah timba diturunkan, agar ia muncul-kembali: penuh berisi air?

Tidaklah Yusufnya-jiwa itu perlu mengeluhkan sumur.

Katupkanlah mulutmu di sisi-sebelah-sini, dan bukalah di sisi-sebelah-sana,

Karena di semesta-tak-bertempat akan berkumandang lagu kemenanganmu.

– – – – – – –
Sumber: Rumi: Divan Syamsi Tabriz no 14

* * * * * * *
menemukan kesemuanya di sini >> ngRumi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s