kau dan Romantisme Inhaler itu

sudah sejak dini hari aku resah. Kotak Pesan-mu pasti sudah cukup sesak untuk menampung Kiriman Kegelisahan yang sedapat-dapatnya aku redam sendiri. sayangnya tak bisa. satu Pereda yang biasanya bekerja ternyata hanya diam saja. ingin kutenggak ulang, tapi sudah habis rupanya. satu Pereda lain jenisnya yang kumintai tolong cukup bekerja, sehingga aku merasa punya cukup kenekadan untuk bersikeras memejamkan mata sembari mengatur semampunya agar Paru-paruku tak makin tersiksa pasal ketidakmampuan masuk normalnya aliran Udara.

tak ada prasangka. aku sudah tahu kau ada di mana dan sedang menyelesaikan apa. satu yang aku sesalkan, aku lupa membangunkanmu untuk hal yang sudah sama disepakati dan dijanjikan dengan si Muda Penggambar. ah, maaf.

ketika datang Pagi dan Gerimis Hujan turun membangunkan, aku kelimpungan mencari Matahari. ada, namun tak begitu sampai kehangatannya. selagi masih berdaya, aku bergegas cuci muka lalu berteman si Marun milikmu untuk kemudian menyeberangi Jalan Raya. jajan seperlunya agar aku tak perlu keluar kamar sampai lewat Senja. mampir ke Apotik terdekat, sekadar membeli Pereda setelah menyadari aku belum bisa menebus Pereda Pamungkas yang entah sudah berapa lama aku jauhkan dari keseharian.

129,500 Rupiah kalau tak salah. sungguh sangat berbanding terbalik dengan 1,200 Rupiah yang harus aku keluarkan untuk 10 butir Pereda Biasa. jika ini berkepanjangan, maka mau tak mau aku memang harus membelinya bukan? ah, bagaimana?

hari semakin tinggi dipeluk Siang dan sepertinya Matahari hanya semakin hilang. kau masih belum muncul di Udara, tidak juga di Peredaran. si Muda Penggambar tampak mafhum dengan ketiadaan kita semalam. aku masih saja mengirimimu beberapa Kiriman Kegelisahan tak bertubi yang berujung kesal namun sesudahnya kembali diselimuti Perhatian.

aku mana boleh kesal, apalagi sampai marah tak karuan. aku sudah tahu kau ada di mana, sudah sangat tahu kau sedang harus menyelesaikan apa. aku yang tengah tak berdaya ini sebelum bersamamu pun terbiasa sendiri menghadapinya. jadi, kenapa harus berlebihan gundah?

dan upaya tegar tertinggal upaya belaka. ujung-ujungnya aku harus bersiap pasrah. sudah tercatat tiga butir Salbutamol 2 mg aku habiskan dalam 13-14 jam. ingin mengambil butir keempat, aku sudah semakin lemas dan memilih diam. Orkestra Biola Nyungsep memang sudah tak keras terdengar, aku menerapkan Ketenangan Udara yang pernah diajarkan para Bapak agar tak semakin kisruh semua. hanya saja: sakit. dadaku terasa lebih sakit bahkan dari sebuah pemaksaan terakhir yang pernah aku lakukan. tak ada pilihan, aku mengirimimu Kegelisahan terakhir yang jika kemudian kulihat ulang lebih tampak macam Permintaan.

karena jika memang akan terjadi satu dari sekian Pengakhiran yang terjadwal di hari ini, Tuan Bumi-ku sayang, aku ingin kedua mataku dipenuhi senyummu saja biar terundang seutuhnya Tenang 🙂

krieekk.. greeeuuusk..

aku tak bergerak. lemas. aku tahu pintu kamarku dibuka dari luar tapi aku tak bisa berbuat apa pun selain tetap diam bergulung karena memang lemas. hatiku tak menyalakan Alarm Tanda Bahaya. semakin kuat alasan untuk tak perlu bereaksi apa-apa. langkah kaki yang mendekat, jemari yang singgah di kepala, uluran sebuah kotak, “sehat, bu?”, dan aku baru mau membuka mata.

tahukah kau, bahwa dalam Kesengsaraan Kecil macam ini aku merasa kau guyuri Bahagia? terlebih ketika kulihat apa yang kau bawa. Pereda Pamungkas! aaaah, bagaimana menahan agar haru tak malah membuatmu semakin cemas?

memang belum pernah ada berkuntum-kuntum Bunga, sekelompok besar Kawanan Balon, berkeping-keping Coklat, bahkan Berlian yang (anehnya) sama sekali tidak aku inginkan. darimu, sejauh ini aku hanya selalu merindukan Kebersamaan yang memang jarang kita dapatkan. lalu ketika kini kau menyediakan tak sampai tiga puluhan menit Waktu untuk mengantarkan apa yang ternyata aku butuhkan, pergi menyelinap sebentar dari sebuah Kewajiban, akuuu.. aku dengan rela kehilangan koneksi dengan Kata-kata untuk merasai wujud kasih sayangmu agak lama.

seucap ‘terima kasih’ tak akan pernah cukup. lihatlah apa yang sudah selalu kau lakukan buatku sejak awal dulu. bagaimana bisa tergoda untuk terus meragukanmu?

sedikit baris Perhatian sudah aku kirimkan untukmu. baru saja, biar kau tak terlalu tenggelam untuk kemudian melupakan lagi seporsi Makan Malammu. saat ini sepertinya aku belum bisa melakukan lebih dari itu. berada didekatmu pun belum tentu akan banyak membantu.

dan Kekasih-ku, izinkan aku membalas kebaikan hati dan sayangmu itu dengan melayangkan Bait-bait Doa Terbaik buatmu, menitipkannya pada Udara untuk mengantarkan secepat kilat melampaui Langit Ketujuh. 

(foto oleh kuke)
(foto oleh kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s