kerinduan Among Raga

pernah mendengar tentang Serat Centhini? pernah membaca karya abad XIX dari tiga orang Abdi Dalem Kasunanan Surakarta (Kyai Yasadipura I, Kyai Ranggasutrasno dan Raden Ngabehi Sastradipura) tersebut dalam bahasa asli atau sekadar terjemahan?

aku sudah pernah mendengar, sudah pula membaca, dan entah kenapa tertuntun begitu saja untuk kemudian menembangkan sebagian isinya. bukan, bukan atas kemauan sendiri, melainkan berdasarkan permintaan khusus dari seorang Pak Guru yang pernah mengungkap sisi lain Serat Centhini lalu menuangkannya dalam karya foto.

tentu aku belum sampai pada kemampuan bisa mengkomposisikan Tembang Suluk Pesisir demi memenuhi permintaan tersebut (jangan-jangan mesti belajar memainkan Gender juga ya? hemm). jadi, aku dibantu penuh oleh Pak Bram. mulai dari memilihkan lirik mana yang sekiranya bagus dan bermakna bila dinyanyikan, sampai menata notasi yang pas.

Komposisi ke-1 entah kenapa tidak kurasa bersesuaian ketika dicontohtembangkan oleh Pak Bram. menurutku terlalu pria, kurang tepat jika dicampuri tingkah suaraku. aku sudah sekali mencoba. akhirnya ya sudah, aku berangkat survey dengan Tim 3G ke Teluk Ciletuh meninggalkan pe-er buat guruku.

Komposisi ke-2 baru diselesaikan dan baru diujicobakan di Sabtu (1 Juni 2013) lalu. kami tidak langsung merekam, karena kami sama sepakat ada bagian yang masih perlu diubah meski tidak seluruh bagian (sebagaimana yang terjadi pada Komposisi ke-1).

nah, rekaman berikut ini adalah hasil latihan kedua (tepatnya hari Minggu kemarin, 2 Juni 2013) untuk komposisi yang aku pilih dan sudah diperbaiki. apakah sudah tepat atau belum — tanpa mempersoalkan suara dan napas yang sedang kurang fit dan kurang panjang — menurutku sih sudah mendekati tepat. hanya saja aku masih harus lebih memahami makna lirik pilihan Pak Bram tersebut agar bisa lebih tepat membawakannya (etapi sebenarnya lucu karena ini kan dari Among Raga untuk Tambang Raras ya? berarti akan lebih sangat tepat lagi jika yang membawakan adalah pria loh -_-a).

selamat menikmati. semoga berkenan ~_~

dhuh yayi Tambang-Raras garwaningsun, puspitaningsun sawiji, wuyung kepati sajatiningsun, sapta purnama tan panggih lan sira, manguwuh-uwuh jenengira..

rinengga Sasadara kang purnama, lelamatan pindha lelayangan, citranira anglila sajroning netra, lamat-lamat kadi amanguwuh..

dhuh yayi Tambang-Raras mustikaningsun..

. . . . . . .
duh dinda Tambang-Raras isteriku, bunga hatiku seorang, rinduku tak terkatakan sebenarnya, tujuh purnama (aku) tak berjumpa dirimu, kupanggil-panggil namamu selalu..

berhiaskan bulan yang sedang purnama, samar-samar bagaikan (dirimu) membayang, bayangan dirimu (selalu) dalam pandangan mata, samar-samar bagaikan (engkau selalu) memanggil..

duh dinda Tambang-Raras permata hatiku..

Advertisements

2 thoughts on “kerinduan Among Raga”

  1. Luar biasa… Bisa menemukan bagaimana komposer era sekarang mengulang kembali kecintaan pangeran pada duhai Suluk Tambangraras… Di senandung tembang Centhini, abdi yang tidak henti mendengar puja puji sang Pangeran:)

    1. kalau buat aku pribadi, mungkin tepatnya bukan mengulang, melainkan menyelami kembali. semisalnya ada yang menarik untuk dicermati lebih jauh, menyenangkan semestinya, dapat pelajaran-pelajaran baru ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s