Nol

hal yang paling sulit untuk ditaklukkan itu menurutku adalah semata diri sendiri. utamanya ketika terlalu jauh digoda Dendam dan Kemarahan, utamanya ketika terlalu dalam ditikam Belati Pengundang Kebencian sebagaimana yang terjadi entah berapa Purnama silam. jika dengan Kelemahan Tubuh sendiri saja aku telah bisa berdamai, maka tidak begitu adanya dengan Sisi Gelap yang terbiasa ikut membantu merentangkan Layar Sisi Terang diriku sebagai aku. tidak sedikit yang telah kena dampaknya. aku teracuni Luka yang sama sekali tak pernah dengan sengaja aku inginkan. sekuat tenaga aku berusaha melawan biar jangan sampai ada yang tertular Racun-nya, mungkin tak kentara tapi itulah seada-adanya. tepat di saat-saat seperti itu aku masih bisa beruntung karena Tuhan tak melepaskan tangan, belum lagi Ia menciptakan aku begitu keras kepala.

berbekal ketakinginan diganggu gugat perihal apa yang memang aku sukai, pun belasan jam Waktu dan Bahagia yang terus disisipi Semesta sedari tersibak wajah Pagi, tak lupa Doa Terselubung dari Tuan Bumi, pada akhirnya aku pulang digamit Senyum dan mengalir rianglah cerita sepanjang 10 menit 33 detik pada Bintang yang baru saja masuk tidur. ah ya, aku tak boleh pula lupa betapa keindahan Musik dan Lirik yang disajikan Mang Om Mukti dan Kawan-kawannya punya peran. telah tiba ternyata, telah tiba: Tubuh dan Jiwa-ku memilih mengembalikan semuanya pada Nol. tak ada lagi puncak amarah, berhenti pula segenap mual dan muak yang memicu keinginan besar untuk muntah dengan jelas arah, padahal aku sangat berdekatan dengan sumbernya. iya, dekat, sangaaat dekat, dan aku memilih mengembalikannya di batas tiada, belum kumunculkan ada. Tubuhku senang-senang sendiri, si Mulut diam, Telinga dan Mata abai. dia (dengan atau tanpa tersadari) telah kudefinisikan tiada. kalaupun faktanya ada, dia bukan siapa-siapa. iya, kembali pada bukan siapa-siapa. kutiadakan. agar nanti bila ada masa kembali terjadi perjumpaan, mungkin aku telah bisa menjabat tangan perempuan itu tanpa dipenuhi sekian ribu hal yang lebih banyak tak aku sukanya, dengan biasa, berkenalan, saling menyebutkan nama. ya, biasa saja.

meski demikian, aku tak bilang telah berakhirlah semuanya. belum. Inti Luka itu belum sepenuhnya tertutup, belum kembali kering pulih dan normal susunan Serat-serat Dalam hingga Lelikuan Permukaannya, masih harus terus kuperangi segala Ketakutan dan Kegelapan Terdalamnya, dan untuk kesemua itu: aku belum mau menyerah! setidaknya Nol yang pertama ini adalah Nol Penuntun dalam pergerakan menuju Nol Tertinggi berikutnya. aku tidak ingin menyerah. aku tidak mau membiarkan diriku hilang. aku tidak sedikit pun ingin menyerah dan membiarkan diriku hilang, sementara aku belum menyelesaikan apa-apa yang sudah Tuhan wanti-wanti sejak dihembuskanNya Ruh dalam sebentuk aku.

hal yang paling sulit untuk ditaklukkan itu menurutku adalah semata diri sendiri. utamanya ketika terlalu jauh digoda Dendam dan Kemarahan, utamanya ketika terlalu dalam ditikam Belati Pengundang Kebencian sebagaimana yang terjadi entah berapa Purnama silam. namun, aku percaya, selalu percaya bahwa aku akan segera baik-baik saja. akan. segera. tak ada ragu yang perlu terlalu sering dihadirkan. karena Tuhan telah berulang kali menampilkan diriNya dalam berbagai rupa yang dimediasi Semesta. aku percaya ~_~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s