mari mumet berjamaah

biarkan aku sesaat menjulurkan Ruh. keluar. mencari sekecilan Batu untuk dikunyah sebelum datang secangkir Teh dengan aroma dan rasa yang aku suka. aku bukan ingin mengeluh lelah, bukan juga ingin mengumbar gelisah.

biasa saja. aku biasa saja. tapi ubun-ubun yang berasap itu katanya bukanlah tanda kewajaran masih kuat mempertahankan keseimbangannya.

aaah ya, Hujan. wangi kudusnya dibawa Semut-semut tebal berwarna Hitam berlarian. masih kukunyah Batu yang dengan suka cita memberai dirinya jadi serpihan-serpihan, sambil membayangkan sewajah Kekasih yang sama kusut kepusingan.

bisa bertahan, kita bisa bertahan. sedikit lagi sampai, harus bertahan. Gerbang sudah dibuka hanya dengan dua tangan, biar aku bantu menjaga dan memastikan ada banyak Pengunjung yang bersedia meramaikan.

sekarang ada tiga puluh menit jeda Waktu menarik Ruh-ku keluar demi membebaskan kecarumarutan. aku masih belum mengganti Batu dengan Gula-gula yang dibawakan lima belas ekor Semut tebal berwarna Hitam.

makan saja, ayo kita makan bersama. sebagaimana segelas Kunir Asem tadi sama rata kita bagi bersama, dan kalian para Semut memang jadi pemenangnya. tak apa. selamat menikmati bahagianya.

– – – – – – –

P.S. : kalo pada kepusingan bacanya, berarti, “selamat! Anda sudah tertular mumetnya si kuke!”  heuheu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s