mungkin hampir 60 menit

tak terdengar deru Pengantar. tak terdengar sibakan Udara. tak terdengar derap Langkah. ia datang dalam seraut rupa Tiba-tiba. senyum letih di wajahnya terlihat membayang tepat pada area pandang si Neon, sementara aku tengah terlalu sibuk mendengarkan sebentuk Angin yang diintepretasikan dengan cantik oleh seorang Pendendang. sesungguhnya tak banyak Kata-kata yang ingin kami undang dalam awal pertemuan ini siang. sebaliknya ia dan aku tampak lebih sama menyepakati membebaskan milyaran Butiran Rindu berloncatan membentuk sebuah Kubah tak kasat mata yang melulu dihiasi pandangan demi pandangan, lengkung bibir tersempurnakan, dan sentuhan tak berbanding nilai uang.

*terngiang* have you ever seen the glowing when the moon is on the rise and the dreams are close to the ones that we love? have you ever sat there waiting for heaven to give a sign? so we could find the place where angels come from..

namun pada akhirnya, ketika Waktu bahkan belum sampai di ketukan ke sembilan ratus, lembar demi lembar kegiatan sudah jadi pokok pembahasan. Klaus Meine tak diberi kesempatan lebih lanjut mengiringi pemaparan selarik Wacana. pertanyaan, jawaban, pertanyaan, pertanyaan, pertanyaan, jawaban, jawaban, rencana, pertanyaan, jawaban, jadwal pelaksanaan, pengaturan satu, pengaturan dua, kekurangan tiga, sebaiknya empat, catatan, catatan, pertanyaan, jawaban. Buku Pengingat yang selalu aku bawa ke mana saja arah pergerakan dengan sigap merekam apa pun yang tak ingin kami biarkan ketinggalan.

bisa jadi, kuk, romantisme macam ini akan terjadi hingga entah kapan nanti berulang-ulang  ~_~

tak ada sepasang Lilin yang dipinta menyala bersama kecil Api. tak ada celoteh Kripik serta sejumlah Penganan kesukaan. tak ada banyak bantahan bersamaan kesealiran pandang juga pemikiran. ia dan aku dipenuhi Bintang-bintang Gagasan dan sekian deret kemungkinan Jalan Pencapaian tanpa saling kehilangan dan menghilangkan. selintas tergambar senyum bahagia para Kata-kata yang begitu bernyawa di antara kami berdua. jelas benar ia dan aku duduk berdampingan, sama mengalir dalam sekian hal yang tak terduga untuk sebuah kali pertama.

maka terima kasih terdalam pada sepasang Rootbeer Kaleng dingin kesukaan yang telah mendedikasikan pendampingan *_*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s