Vivera Siregar: Selamat pagi, Ayu

Ah, Ayu, kamu menutup perjalananku dengan air yang menggenang di pelupuk mataku. Saat aku duduk di depanmu, melihatmu menutup kedua matamu dengan telapak tanganmu, dan mulai menembang pelan, lambat, lalu meninggi. Aku sungguh tak paham sepatah kata pun isi tembangmu itu. Tapi aku merasa mataku memanas, pandanganku mulai buram berkabut. Ada luka dalam tembangmu, ada rindu, ada hati yang luka dan terpatahkan, ada ketidakmungkinan akut yang memaksa keterpisahan.Itu tembang cinta Rahwana pada Dewi Sinta. Seumur hidupku aku tak pernah tahu. Yang aku tahu, sejoli itu Rama dan Sinta, yang setiap bulan purnama dipertontonkan di pelataran candi Prambanan. Yang aku tahu, Rahwana itu Dasa Muka, raja sadis dan kejam dari negara Alengkaraya. Aku tahu dia menculik Dewi Sinta dari lingkaran terjaga, tapi tak pernah tahu cintanya yang sedemikian dalam, tak pernah tahu bahwa si kejam itu punya hati.Ayu, hatiku menjelaga, saat kamu berkata pelan seusai menembang: “bukankah cinta paling tulus adalah kasih tak sampai?”. Kamu benar Ayu. Ketika kita tak bisa memilikinya, kita akan mencintai dengan sepenuh hati, dan dia selalu indah dimata kita. Ketika kita terpisah karena nasib yang memaksa, kita menjadi jauh lebih toleran akan kekurangannya, dan dia selalu jadi bunga mungil cantik yang akan tetap segar di padang savanna, karena kita tidak akan pernah memetiknya, tidak akan pernah mengganggunya, dan membiarkannya bertumbuh menjadi dirinya.Ketika kita tak bisa memilikinya, kita akan terus merindukanya seperti pungguk dan tak henti memuja.

Ayu, tembangmu itu mengantarkanku melayang, pada kesadaran bahwa cinta memang tak harus memiliki, bahwa mencintai adalah cukup untuk cinta itu sendiri, barangkali tak perlu kata, dan juga cerita, karena dalam diam yang panjang, pepohon bisa berkata, ilalang bisa berbisik, lautan pasir bisa membadai dan tiba-tiba membuat mata perih tanpa alasan, angin bisa hadir dan membuatku merapatkan jaket kedinginan. Dan dalam semua itu, aku bisa melihat cinta beterbangan, tanpa harus diungkapkan dengan suara, dan aksara.

Terima kasih Ayu, telah menembang dengan penuh kesungguhan, dengan suara lirih yang menelisik relung jiwa. Bukan hanya dirimu yang menutup muka dengan kedua telapak tangan. Aku juga Ayu, tapi bukan karena aku menembang sepertimu. Kamu lihat, di sela jemariku, ada bening yang meluncur diam-diam, dan hanya kamu yang tahu, hanya kamu yang bisa mengerti kenapa….

(Bromo 2-6 Mei 2013)

– – – – – – –
* repost atas seizin Penulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s