4 menit 40 detik

selamat pagi, Tuan Bumi. tahukah kau apa yang kulakukan begitu tidur kuusaikan dan sekali lagi seluruh fokus hari ini kutempatkan di satu titik? aku tak melepas barang sedetik pun jaketmu itu. aku tak melepas barang sedetik pun ingatan akan sebuah pelukan yang kehangatannya telah banyak merawat lukaku. aku bahkan sibuk sendiri melukis dinding-dinding kamarku yang mulai pudar putihnya itu dengan senyum jailmu berkali-kali setiap ingat bahwa kau sedang menguras Danau Kelimutu yang tengah berwarna Hitam, HIjau, juga Biru. aaah, Kelimutu ya? aku belum pernah ke tempat itu. tapi jika nanti terpatri satu masa terkaitlah rezekiku, maka semoga Merah berpihak padaku. Merah Kelimutu, ya, itu yang rasanya mendadak aku mau.

selamat pagi, Tuan Bumi. pasti siang di sana sudah bergerak melebihi kecepatan gerakku yang rasanya agak melamban selama beberapa hari ini. tapi tak apa, dikepulanganmu nanti aku pasti sudah gesit kembali. kita ada janji. kita ada sekian hal yang menanti keseutuhan Nadi Pengabdi. betapa menyenangkannya telah datang masa dan kita bekerjasama penuh dengan apa yang masing-masing kita bisa.

selamat pagi, Tuan Bumi. hati-hati di sana, baik-baiklah menjaga diri. sementara aku di sini akan membereskan dulu segala urusan hingga yang terkecil. berbekal pertukaran nada kita sepanjang 4 menit 40 detik di sebuah siang kemarin yang teduh sejuk seketika bagi perputaran panas otakku.

sudah dulu ya, Tuan Bumi. sampai nanti ~_~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s