enampuluh dua hari menjelang

aku menuliskan ini dalam rasa lapar yang tak terlalu lapar, bersama denyut-denyut konstan menyangga kepala, dengan leher dan bahu dialasi tekukan bantal serta guling agar posisinya sedikit lebih tinggi dalam rebah. nafasku masih tertahan himpitan dinding tak kasat mata. sinar Matahari yang menerobos lewat Jendela tertinggi menegaskan semu Kuning menjalar tanpa tertahan. meski sebentuk Siksa ingin diakui keberadaannya, aku masih memutuskan untuk memberi sebuah senyuman saja. belum saatnya, bukan harinya untuk menyerah, lebih baik aku menulis apa yang aku inginkan semampu aku bisa.

aku menuliskan ini serentang enampuluh dua hari menjelang titik 35 dalam pusaran yang tak kunjung berhenti berputar, bersama berderet ingatan yang minta dipilah, dengan sebentuk keinginan kecil yang baru tercipta. panas tubuhku tak juga bersedia ditaklukkan Hujan bahkan guyuran Air dari Keran. Udara bahkan bersekongkol diam agar gigilku tak makin menjadi bersarang. meski sebentuk Siksa sudah berkali-kali meminta diakui keberadaannya, aku masih memutuskan untuk memberi sebuah senyuman saja. belum saatnya, bukan harinya untuk menyerah, aku ingin hidup untuk apa yang aku yakini masih harus diselesaikan. setidaknya tak ada yang boleh menghentikan kecuali Tuhan yang punya kuasa itu yang bilang.

aku menuliskan ini dalam kesadaran yang tengah digempur ketidaksadaran habis-habisan, bahwa aku telah kembali memutuskan apa yang ingin aku lakukan terhadapmu yang telah bersusah payah menyembuhkan aku dengan keyakinan yang pernah dan terkadang masih aku ragukan. entah apakah ini semua akan berguna memupuk sebentuk Cinta dariku yang justru datang belakangan. entah apakah ini semua akan jadi satu hal terbaik terakhir yang bisa aku lakukan. entah apakah ini akan menggenapkan sekian jumlah perjalanan mencapai titik dimana aku berhasil menjadi sedebu keberkahan di lingkup Semesta membentang. meski sebentuk Siksa terus saja meminta diakui keberadaannya, aku masih tak ragu menyenyuminya dan tegas berkata tak mau menyerah. belum saatnya, bukan harinya, aku ingin hidup untuk terus menghadiahi Tuan Bumi bahagia sebanyak aku bisa. itulah keputusannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s