aku pagi ini

 aku bisa melihat Pagi sudah hadir lagi. aku masih merasakan panas menjalari sekujur tubuh tanpa toleransi. sepertinya nafas pun masih aku titipkan di Rak-rak Rahasia milik Udara sambil terlalu lancang terus berharap elusan tangan kekasihku singgah di punggung menjelma abadi di setiap detik bersama kehangatan yang dihadiahkan sebagian isi dari sebotol Minyak Kayu Putih. siksa keterbatasan yang lazim terjadi macam begini sudah aku paham tak perlu ditangisi. namun tak ayal aku termimpi kesendirian itu luruh lah sesekali. setidaknya di saat-saat seperti ini kalau boleh aku mengingini.

aku bisa merasakan Langit terlalu rapat dengan Abu Putih. aku tak terhindar merasakan himpitan Dinding Pembatas tak kasat mata yang memisahkan aku dengan Udara dan Matahari. sungguh tak terduganya ketika Mimpi Buruk itu datang kembali. siksa keterbatasan dan sebentuk ujian macam ini sudah aku paham tak perlu dikeluhi apalagi disesali. namun tak ayal aku termimpi kesendirian ini membuyar lah sesekali. setidaknya di saat-saat seperti ini kalau boleh aku memohon dengan segala kerendahan hati.

aku bisa mengingat kembali dengan rinci semua yang telah terjadi. aku masih merasakan berlipatnya perih dan nyeri. selalunya Mantram kujadikan pemadam Api. selalunya pesan kekasih aku biarkan terputar kembali. siksa sebentuk ujian macam ini sudah aku ketahui tak akan pernah mudah disiasati dengan keriangan semu atau keputusan serba dini. namun tak ayal aku termimpi kesendirian ini terhentilah sesekali. setidaknya di saat-saat seperti ini kalau boleh aku meminta tanpa tangis.

aku bisa melihat Pagi kian menegaskan diri. aku bisa merasakan Langit memekatkan Udara hingga sulit kuhirupi. aku bisa mengingat kembali dengan rinci setiap sayatan Luka yang belum juga benar mengering sampai kini. siksa keterbatasan dan sebentuk ujian macam ini sudah aku ketahui tak akan pernah pantas jadi alasan untuk berhenti. setidaknya di saat-saat seperti ini telah ada ia yang berusaha keras selalu ada untukku menguatkan juga menemani.

Pagi, semuram apapun wajahmu kini, terima kasih. Tuan Bumi, mesti berjauhan lagi pun adanya kita saat ini, aku tak tahu harus membalas apa untukmu yang telah menyimpanku di dalam hati. Matahari, jika Langit sudah bisa diajak bercanda lagi, tolonglah segera hadir membukakan jalan agar Udara dapat kuhirup pasti. Tuhan yang Maha Baik Hati, untukMu yang telah membiarkanku terlibat dalam Semesta ciptaan-Mu ini aku menghambakan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s