(dalam) Cumbu Pagi Negeri Kabut

ini aku datang menginjakkan kaki di ketinggian yang bagimu mungkin baru sekedar pembuka. sekuat tenaga aku memohon agar Angin tak terlalu bersemangat mengantarkan langkah menapaki Pasir Hitam; sekuat hati aku meminjam kekuatan yang kau titipkan pada selembar Jaket Marun berbatas Coklat Muda penuh kehangatan; dan seperti sudah kau duga, aku meminjam tangan Langit untuk terus naik hingga ke puncak Pananjakan. ada sesekali kusandarkan punggung di setiap Bintang yang perlahan menghilang ditelan terang; kupasang telinga untuk gema kedatangan Matahari yang terus berkumandang. tepat di saat itu setidaknya aku tahu bahwa aku tak salah jalan. seperti katamu, jangan tinggalkan Mata Hati untuk setiap Perjalanan.

Tuan, tahukah apa kemudian yang membuatku ingin dalam sedetik kau ada dalam bentuk nyata bukan semata kau yang selalu kubawa dalam jiwa? selalu seperti inikah yang kau saksikan setiap berupaya mencapai tiga ribuan? Kabut melaut begitu tenang, perlahan tersapu Angin hingga terlihatlah sebuah negeri yang berlaku macam perbatasan menjelang Negeri-nya para Dewa di atas hamparan Awan. demi lihatanku, sungguh berbeda negeri ini dengan satu Negeri Kabut yang pernah kusinggahi sebelumnya dengan segudang cerita terbuka. aku membaca keberadaan Selubung Misteri menghampar menutupinya, sekaligus juga entah kenapa dibiarkan mengetahui sedikit demi sedikit cerita kebenaran dibaliknya. aku sampai kehilangan keinginan terlalu banyak bicara. selain berulang merapalkan namamu dalam bait-bait rindu, justru hanya nyanyian yang kubiarkan terus berkata tanpa malu-malu melintasi Udara Nirwana.

ini aku datang menginjakkan kaki di ketinggian yang bagimu pasti baru sekedar pembuka. Bintang-bintang masih terlalu jauh untuk digapai, namun Matahari sudah mulai menyinari senyumku yang rasanya ingin berteriak bangga padamu tentang keberadaanku di sini sekarang. aku sudah lupa keterbatasan nafasku, aku melupakan gigil beku yang mengurung jantungku, aku melupakan Manusia dan melambai pada Langit sejadi-jadinya. aku jelas kehilangan keinginan terlalu banyak berkata-kata. aku hanya terus berulang merapalkan namamu dalam bait-bait rindu, dan nyanyian masih yang terus kubiarkan merajai Udara tanpa malu-malu hingga batas Nirwana.Tuan, apakah mungkin keberanian dan tekadku mulai mengalahkan kelemahan yang menyertaiku lebih dari hitungan tiga puluhan? jika “iya” menjadi jawaban maka sudilah kiranya kau bawa aku, Tuan, ke Negeri-negeri Kabut lainnya yang begitu kau mengerti. bawalah aku, Tuan, biar kurasai cumbu Pagi di dalam begitu banyak misteri. dan jangan ragu lagi, Tuan, untuk mengajariku bagaimana memperlakukan kekuatan agar bisa kubuka Gerbang Negeri Awan dengan suka hati.
ini aku datang menginjakkan kaki di ketinggian yang bisa jadi telah berarti biasa bagimu, Tuan; untuk kemudian sedalam-dalamnya menyadari apa yang tanpa diundang begitu saja terharap. terima kasih telah menemaniku dalam dekap. terima kasih telah membekaliku dengan segudang percaya yang belum dapat terdefinisi ukuran pastinya. terima kasih telah datang dalam kehidupanku dengan rupa-rupa Ramuan Penghilang Lara dan Penyembuh Luka. itu saja. entah bagaimana membalasnya.

– – – – – – –
teruntuk Tuan Bumi yang menemani perjalanan kali ini dengan Jaket Marun berbatas Coklat Muda-nya. tertanggal 3 Mei 2013, melepaskan Pagi di atas Pananjakan (2770 MDPL) dengan Bromo-Batok-Widodaren-Watangan-Semeru di hadapan.

.
(foto oleh: kuke)
(foto oleh: kuke)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s