dalam Pagi, direngkuh Laut

ini tepat hari keempatbelas. Pagi kembali dibangunkan bersamaan aku direngkuh Laut agar tak berkurang setitik pun rasa nyaman. sejauh ini sudah aku pulang, diam-diam rasa rindu mulai kelayapan. tapi setiap kali kulihat pola Gelombang, sepertinya aku langsung melupakan lalu menikmati detik-detik bahagia dari sebuah Perjalanan.

semalam aku hampir mengadu banyak pada Bapak Bintang. apa daya sinyal komunikasi begitu susah disuruh diam tenang. setelah empat menit, terputus, bersabar, satu menit, terputus, hilang harap, hingga kami memilih saling berkirim pesan yang tak lebih dari dua – tiga sampiran.

tak lama aku terlonjak kegirangan, Tuan Bumi membuat getar-getar membentur kasur dan sapa riang sayangnya menghangatkan lorong telinga juga perasaan. selorohnya tentang ‘sedang berselingkuh dengan gua dan karst‘ cukup membuatku terpancing manja juga tergelak akhirnya. hanya sebentar, terputus, aku coba berganti memanggil, tersambung lalu terputus. sepertinya kami sama menangis dan tertawa di ruang bentang Barat – Timur yang tak kira-kira jauhnya.

ini tepat hari keempatbelas. hasil karya kaum Agas masih membuatku terus sibuk kegatalan tanpa henti sampai panas. aku masih dibuai-buai Pagi yang menyanyikan Senandung Gelombang. setidaknya rasa rindu bisa kutahan dengan kembali menikmati detik-detik berharga dari sebuah Perjalanan.

– – – – – – –

Pagi. gelap-gelapan lampu kamar dimatikan. masih di Tuapeijat, dalam Wisma Bintang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s