tidak ingin pergi

beberapa hari terakhir, atau mungkin satu dua minggu terakhir, rasanya aku kurang leluasa bergerak. jika pada akhirnya aku harus mengakui bahwa benar-benar sakit yang terasa, maka ya benar adanya. sudah tidak bisa tetap tersenyum, sudah susah menahan diri, sudah semakin naik tingkat keuringuringan yang menyerang. aku mengaku: sakit. sekujur punggung tampak tidak pilih-pilih lokasi. dalam rima napas pun nyeri masih mengikuti sampai napas itu punya bunyi sendiri. serba salah tapi aku tetap harus tetap wara-wiri. terbersit untuk ‘turun mesin’ selama tiga hari sampai seminggu. sayangnya sudah tidak ada cukup waktu lagi. ada tugas yang sudah menanti, sudah disepakati. janji tetap janji bukan?

Tuan Bumi menyemangati dari jauh. Bapak Bintang mengingatkan Armada Obat yang harus aku bawa penuh. Pak Bram melepas dengan satu kalimat menyenangkan “jangan sakit ya.” meski aku sendiri rasanya mulai ragu aku bisa tetap optimis meminimalisir rasa sakit dengan kekuatan pikiran dan kebandelanku seperti biasa. ah, ayolah, Kuk! masa menyerah (meski aku sempat bilang ke Tuan Bumi bahwa aku memang ingin menyerah dengan rasa sakit yang nyata membuatku tidak bisa bangun dari rebah tubuh sampai cukup lama dibiarkan tak bergerak berlebihan) begini?

pagi ini, aku masih punya sedikit waktu untuk mencatatkan pengakuan ini. aku tidak ingin pergi. bukan karena ada Pagelaran Prahara Lembah Serayu malam nanti, bukan karena malas, bukan semata karena ya memang masih terasa sangat sakit. aku tidak ingin pergi. hatiku bilang jangan pergi. hatiku sudah bersekutu dengan tubuhku melarang untuk pergi. hanya kesadaranku masih bekerja, belum mau berhenti, ada tugas yang menanti. meski tak ingin, aku harus pergi.

Biru Langit sudah keluar tersenyum sedari tadi. Matahari bahkan membantu menghangati punggung rapuh ini. para Tonggeret bahkan menyanyikan lagu tak biasa ini kali. semua menyemangati, tapi aku sendiri masih ragu apa aku bisa tetap meyakini rasa sakit ini akan segera pergi nanti begitu hidungku menghirupi Laut yang selanjutnya akan menghidupi selama berhari-hari. ah, ayolah, Kuk! tak akan ada sesuatu yang buruk terjadi. sakit itu akan reda nanti.

aku sungguh tak minta dimengerti. tapi kali ini rasanya aku benar-benar tak ingin pergi. ingin hanya diam di sini. tidak ingin pergi.

– – – – – – –

Bandung. Minggu. pagi. aku harus berangkat ke Jakarta beberapa waktu lagi. lalu terbang ke Padang dan kembali bertugas di Mentawai mulai keesokan harinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s