alkisah Hujan, Bumi, dan Batu Bintang

semua berjalan perlahan. setiap butiranmu yang jatuh. setiap rasaku yang menghablur. setiap rindunya yang dipupuk. setiap harapan yang sama kita benamkan di antara gumpalan Awan hingga akhirnya berderai berjatuhan karena tak kuat lama-lama berdesakan.

kau menjadi Hujan. aku dibawa Batu Bintang. ia menunggu kita menjelma Bumi berpunggawa Akar-akar Rumput dan Pepohonan. kita menyatu dengan cara yang inginnya fasih dipahami namun lebih jauhnya malah membentuk senyuman.

semua berjalan perlahan. ketika satu demi satu Tugas ia rapikan. ketika helai demi helai Benang Impian kurajut dalam keperlahanan yang nyaman. ketika engkau kembali berjalan-jalan di Pelangi sebelum kembali meliarkan tarian. kita kembali berjalan setelah terikut bekejaran.

– – – – – – –
Bandung. malam. belum terlalu pekat. Hujan. tak kentara Bintang. dan Bumi telah merentangkan tangan agar ketiganya dapat mesra berpelukan. meski mungkin bukan sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s