monolog kegemasan

sesungguhnya Hutan & Air pun perlu dihidupi untuk terus mampu menghidupi. faktanya semakin ke kini, mereka dianggap lebih mampu mengurus dirinya sendiri sebagai sebentuk keajaiban dan berkah tak terkira dari Tuhan — tidak perlu dijaga, tidak perlu dikasihi, bahkan tak jarang hanya bisa mendapatkan “sedih rasanya. tapi, kami tak bisa berbuat apa-apa.” dengan harapan semua bisa memaklumi.

apa baru ‘bergerak’ namanya jika sudah bisa memindahkan seluruh Hutan Beton, Pabrik Penyetor Limbah, dan semua yang meniadakan keseimbangan Semesta ini? apa baru akan ‘tergerak’ nantinya ketika Hutan dan Air sudah sepenuhnya mati? apa bahkan sebegitu sulitnya untuk meminjamkan tangan melakukan satu kebaikan sederhana bagi Bumi tanpa muluk-muluk menunggu tangan itu akan bertumbuh sebesar Semesta itu sendiri?

mengerikan sekali -_-

aaah. jangan menunjuk ke mana pun, kuk. jangan menudingkan jari ke arah manapun selain ke arah dirimu sendiri.

laa taghdab. laa taghdab. laa taghdab.

lakukan saja apa yang bisa kau lakukan sepanjang itu bukan sekedar merutuk, bukan sekedar menggerutu, bukan sekedar mengeluh. pasang kacamata kudanya dengan baik, gunakan tutup telinga yang tebal, semata-mata agar tak perlu tergoda sibuk membandingkan sementara tugasmu belum selesai.

laa taghdab. laa taghdab. laa taghdab.

sudah. ayo pergi ke kamar mandi. benamkan kepalamu di Air. hari ini sekian hal sudah menunggu untuk ditingkahi. gemasmu itu, jadikan sebaik-baiknya energi.

iya. terima kasih. maaf ~_~

tak apa. mungkin perlu sesekali. tapi jangan sampai meracunimu nanti. pergilah..

iya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s