buatmu, Tuan Bumi — apa yang baru aku mengerti

kau datang semasa aku masih belum sembuh benar dari sebuah luka yang terlalu dalam bahkan menggores tulang. tabiat burukku jangan-jangan sudah hampir seluruhnya kau saksikan ya? sebenarnya itulah kenapa aku pernah menolak kehadiranmu dan bersikeras segalanya masih butuh waktu. aku tidak mau menyakitimu. sesederhana itu.

sekarang, baru aku pelan-pelan bisa mengerti kenapa Tuhan mengantarkan kau sampai ke depan pintu, mengetuk, lalu masuk menerangi ruang yang pelitanya aku biarkan mati sampai saat aku rasa cukup. sekarang, baru aku pelan-pelan bisa memahami kenapa juga Tuhan membuat kita berjarak sesudahnya. Tuhan dan kau yang sama sayangnya padaku, sama tahu apa yang sebenarnya aku butuh.

Tuan Bumi yang baik, maafkan aku masih mudah hilang sabar, uring-uringan, kerap macam Angin Ribut yang bisa jadi ada sedikit-sedikit menyakiti dirimu. perjuangan menghadapi kemarahan diri sendiri memang tak mudah. belum lagi, meski terkadang aku Laut, rasanya aku belum bisa seluas kau menerima dan meredam berupa-rupa hal didalamku. terima kasih atas kesediaanmu menyayangiku. terima kasih atas keberanianmu mengetuk pintu, menyapa, lalu meyakinkanku agar menerima datangnya dirimu. terima kasih kau telah berupaya keras memaklumi akibat dari sebuah kemarahan dan luka yang tak mudah lekang dari ingatan tubuh dan jiwaku. terima kasih masih tetap bertahan mempercayai bahwa aku bisa melalui segalanya tanpa kehilangan satu-satunya diriku.

aku sepertinya sudah mencintaimu ~_~

image-source: jumpC.com
image-source: jumpC.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s