masa memahit lidah

barusan Jingga mengetuk di kaca Jendela. menyuruhku keluar agar bisa dibelainya. biar turun panas. biar reda kelam. biar senyum tenang. biar sebiar-biarnya biar.

Langit yang menggamit sudah paham apa kejadian. melepaskanku mengadu tentang segalanya dalam sebentuk diam. Jingga berkesinambungan mengecupku dalam keiklasan.

hari ini sudah cukup aku membuat kekacauan. tapi kekacauan belum merasa cukup untuk disemayamkan. setidaknya, setiap kali ini terjadi, aku jadi tahu apa rasanya menjadi Serunting — si Pahit Lidah dengan segala ingin-&-ketakinginannya, sampai-sampai ia harus mengakhirkan pilihan pada sebentuk diam.

kini Jingga sudah pergi, menjauh dari kaca Jendela, membekaskan rasa tenang yang entah akan bertahan hingga seberapa lama. aku sekeras-kerasnya berupaya. aku sekeras-kerasnya berupaya.

– – – – – – –
pada Senja dalam enam di bulan ketiga

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s