apa kau tak pernah merasa kau sudah membunuh Hujan?

Hujan itu sesungguhnya bernasib malang. sudah harus jatuh ke Bumi, masih harus merangsak masuk agar dinamakan meresap. jika tak berhasil, maka ia masih harus terus berlari hingga menemukan muara dan bisa beristirahat di sana. kesemuanya itu adalah temuan di kondisi wajar.

pernah tidak kau menabrakkan dirimu ke Hujan? iya, menabrakkan diri, menerobosnya dengan dilengkapi Payung atau Plastik Pelindung atau malah tidak sama sekali. sesudah itu masih saja ia kau rutuki, kau salahkan, kau caci maki pasal kebasahan lengkap atau sebagian yang harus kau alami. padahal, siapa yang memilih? apa Hujan yang menarik hingga kau pada akhirnya kuyup mungkin memutih? itu baru kau yang memutuskan menabrakkan diri. pernah tidak kau melihat mereka yang beroda dan bermesin itu tanpa ampun menabrak lalu menggilas Hujan? pernah kau perhatikan berapa juta Butiran Hujan mati bergelimpangan dari tengah sampai pinggir jalan? aku tak yakin. kau hanya sibuk sendiri. mana mau tahu apa yang terjadi pada Hujan. ya, Hujan yang sesungguhnya bernasib malang. sudahlah harus menyentuh Bumi dengan cara jatuh terjun bebas, ia masih pula harus merangsak masuk menembus Tanah agar dinamakan meresap. lalu ketika itu tak berhasil, maka ia masih harus terus tak henti berlari hingga menemukan muara dan akhirnya beristirahat di sana.

jadi, bagaimana? apa kau tak pernah merasa kau sudah membunuh Hujan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s