meLangit Angin #2

satu dari serangkaian catatan kecil pengalaman terbang pertama kali bersama Trike dan Pak Saleh Sudrajat di 2 Februari 2013 Pagi.

– – – – – – –

aku hanya merasa terlengkapi. selebihnya tak ada lagi. tidaklah aku merasa mendadak menggantikan posisi Superman juga sepupunya si Supergirl itu dalam film-film tentang mereka. tidaklah pula aku merasa mendadak beralih rupa sebagai seekor Burung Kecil yang berkesempatan menjelajahi Angkasa. inilah seutuhnya aku, berada di sini, merasai semurni-murninya Angin yang terus berusaha mengajakku bermain dengan seksama meski aku sekuat-kuatnya dijaga oleh cengkeraman si Sabuk Pengaman. aku terus sibuk mengurai rasa bahagia. entah seberapa kali aku terpekik, entah seberapa sering aku memperdengarkan betapa aku mengagumi, entah seberapa bisa aku menahan diri biar berhenti bernyanyi. aku hanya tahu inilah rasanya terlengkapi. karena sekarang aku sudah bisa melihat apa yang si Layang-layang lihat dulu ketika ia meninggalkan aku di Bumi.

(foto oleh Kuke)

sebenarnya semua berawal dari iseng-iseng meyakinkan si Dewa Bumi a.k.a Pak Bachtiar agar membawaku serta dalam penerbangan perdananya dengan Pesawat Trike. 12 Januari 2013. dalih manis pertamanya adalah: aku bisa berperan sebagai Pawang Cuaca. sedangkan dalih manis keduanya adalah: aku bisa bantu memotretkan detik-detik lepas landas sekaligus mendaratnya kemudian, sehingga dokumentasi di hari penting tersebut lengkap, tidak ada yang terlewat, tidak hanya Beliau yang mendapatkan foto-foto menarik dari atas sana. meski yah mau tak mau aku harus mau bangun lebih pagi, sebisanya mandi, lalu menembus Bandung yang dingiiiin sekali seusai Subuh (FYI: jarak Dipati Ukur dan Lanud Sulaiman itu sungguh tidak dekat) agar tiba tepat waktu sebagaimana permintaan Pak Bach. tidak baik kan membuat orang yang sudah berbaik hati memberi kesempatan menunggu? tepatnya, seperti Pak Bach bilang, “jangan sampai kita yang membuat Pak Saleh menunggu, Yu.”.

aku masih bisa mengingat itu kali pertama. Pak Bach mengenalkannya padaku sebagai Pak Saleh sebelum Jam menunjuk pukul 7 dengan tepat. Saleh Sudrajat lengkapnya. ada kemungkinan keduanya berusia tak jauh beda. bahkan dari cara melangkahnya, mereka berdua macam punya Inti Darah yang sama. entah bagaimana menjelaskannya, begitu sajalah adanya. maka, kupikir, jika aku ada kalanya menyebut Pak Bach sebagai Dewa Bumi, ya inilah Dewa Langit-nya. jangan tanya kenapa, aku hanya mengikuti hatiku saja. belakangan (tepatnya sesudah memperhatikan terbangnya, kemudian ikut terbang pula bersamanya, kemudian memperhatikan reaksi orang-orang sesudah aku melakukan ritual berbagi) aku baru ngeh kalau ternyata Dewa Langit ini sudah terkenal tak hanya didunianya. temanku, si Ulukumulu, malah sudah pernah meliputnya untuk kepentingan pekerjaan. waduh, ke mana sajaaaa, Kuk? tampak sudah tertinggal entah satu per berapa rotasi Kehidupan? (aduh, potensial lebay? heuheu). berhubung tak ada yang mempermasalahkan, ya aku nyaman-nyaman saja. berkenalan lagi dengan sesosok yang memang pantas dikagumi, sosok yang masih bisa memancing histeria (kenapa harus menepikan kenyataan kalau memang Dewa Langit yang ini belum pudar ya ketampanan dan pesonanya? hahaha), sosok yang cukup membuat terkejut-kejut juga karena ternyata bukan hanya terbang dan terbang saja yang membuatnya semakin menarik. terlebih ketika aku melihat langsung caranya memperlakukan dan membelai kepala seekor Dogo berdarah Argentina di hanggar sebelum penerbanganku berikut reaksi si Anjing yang masih bocah itu. he’s a good man inside. ya, si Dewa Langit itu. dan ini bukan lebay ~_~

aku sebenarnya tak mengapa dengan menit-menit menjelang genap 60 yang sepenuhnya ditemani Kerikil, Rerumputan, dan Langit yang tak habis-habis dipandang. aku tak mengapa dengan detik-detik yang rasanya terlampaui lamaaa sekali ketika menunggu Pak Saleh dan Pak Bach kembali ke Bumi. aku yakin aku bisa memenuhi pesan Pak Bach agar tak sembarang berkeliaran sampai jauh dari hanggar jika kebosanan. aku bisa mentolerir kesemuanya dan cenderung diam di tempat. berkeinginan sih iya. melihat keduanya lepas landas lalu berputaran sebentar sebelum menghilang di balik Malabar dan Awan-awan itu mengingatkan aku akan rasanya ketika ditinggal di Bumi oleh si Layang-layang. mereka sudah melihatku mengecil dari atas sana, meninggalkanku di sini, merasakan terpaan Angin. aaaah, seperti apa sih rasanya diterpa Angin yang berkeliaran di Langit sana? kalau sekedar melihat semua mengecil kan ya aku sudah tahu mengalaminya ketika naik Pesawat Penumpang Komersil. aku dapat hak untuk sedih. tapi itu bukan pilihan bagus untuk diladeni. cuma Rerumputan dan Kerikil juga Niki yang habis kuruahi pelampiasan dari keinginan itu.

“Ayu mau ikut terbang juga? tadi saya lupa tanya.”

“Yu, sekarang di mana? .. Ah, ya. Sabtu depan ya?”

bisa membaca dengan jelas apa yang aku hadirkan di dua baris sebelumnya kan? baris pertama disampaikan langsung setelah Dewa Langit berhasil membawa Dewa Bumi yang memucat itu mendarat dengan selamat. sehingga aku tak tega rasanya meninggalkan Ayah Alam-ku itu untuk sebentuk keinginan menggebu, terbang dan merasakan langsung libasan-libasan Angin yang begitu menggoda. aku menyisipkan ‘lain kali’ di rentetan jawaban. aku menyembunyikan bahagia yang mulai memercik di tempat yang rahasia. sementara, baris kedua disampaikan melalui Titik-titik Komunikasi di Udara. membangunkan aku yang sedang menikmati Ritual Sabtu jika sedang tak ada jadwal apa pun yang harus dipenuhi segera. aku setengah tak percaya. maunya sih tetap tak percaya. sayangnya, tidak bisa, aku harus percaya. aku harus harus harus percaya bahwa di Februari yang 2 Dewa Langit akan mengajakku mengitari Angkasa, merasakan libasan Angin, menyapa Burung-burung dari dekat jika mereka lewat, menyentuh Biru, membaui Abu-abu, dan merasai butir-butir Udara. meLangit! aku akan meLangit?! horeeeeee!!! (percayalah, aku sebenar-benarnya teriak kegirangan dan koprol bersaksikan kasur-bantal-guling-selimut juga si Niki, heuheuheu)

(foto oleh Kuke)

dan sungguh tak ada alasan untuk diragukan menjadi nyata. aku tak akan pernah lupa apa rasanya membiarkan kedua kakiku macam terbang ringan di kiri-kanan. aku tak akan pernah lupa apa rasanya digoncangkan Angin pada ketinggian yang akan mengerikan jadinya jika mengingat di mana Bumi berada. aku entah kenapa bukannya takut malah berbahagia ketika Trike dibawa mengayun ke kiri dan ke kanan, bahkan sedikit menukik ketika memasuki Situ Cileunca. aku bahkan ingin menggenapkan bahagia dengan setitik airmata ketika bisa melihat liukan Ci Tarum yang diam-diam membuatku semakin mendekati cinta. aku tak akan pernah lupa aku sudah berhasil menyanyikan Over The Rainbow buat Langit sedekat-dekatnya Trike bisa membawa. Pak Saleh pun tampak tak terlalu keberatan terus mendengarkan suaraku (mulai dari nyanyian, kemeriahan, tahan pekik teriakan, dan wuhuuuuu) yang disaring kemresek sembari tak lepas berkomunikasi terus dengan Menara Pengawas, serta sesekali menunjukkan arah mana yang mesti kupotret dengan Niki dan memaparkan kami sedang berada di mana. aku bahkan sudah lupa sempat menunggu lebih lama sebelumnya ~.*

beberapa menit setelah mendarat, Pak Saleh bertanya, “bagaimana? apa rasanya sesudah terbang? setidaknya dari sudut pandang Ayu yang suka motret?”

lalu, aku tak punya banyak penjabaran selain, “rasanya lengkap. sekarang jadi lengkap. sudah tahu seperti apa rasanya langsung melihat dari atas sana, Pak. sudah bukan mengangan-angan, bukan berimajinasi lagi.”

“dan lebih leluasa ya sudutnya? ketimbang dengan pesawat tertutup?”

“iya. bisa tiga ratus enam puluh derajat malah, seandainya tidak terhalang sandaran dan baling-baling.”

“..”

“dan berasa Angin-nya, Pak. itu yang menyenangkan.”

dan sesisa hari itu, di Februari yang 2, bahkan kemacetan sepanjang lintas Cibaduyut dalam perjalanan pulang bersama Pak Saleh tak terlalu menyiksa kurasa. sudah mendarat di Bumi pun belum sepenuhnya hilang itu rasa bahagia. meski tak bisa ditampik, tak menyenangkan sejatinya melihat Hijau Bumi habis digantikan Coklat Tanah, beragam bentuk Bangunan dan warna kesukaan Manusia. aku tak bisa membayangkan jika semua itu masih terus dan terus saja. apa rasa bahagia hari ini akan sama jika di kali yang lain nanti aku kembali berkesempatan dibawa Udara? ketika Persawahan, Hutan, dan Perkebunan Teh yang menyegarkan mata itu sirna tiada? entahlah.

(foto oleh Kuke)

***selesai*** 

teruntuk Dewa Bumi dan Dewa Langit: terima kasih ~,~/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s