meLangit Angin #1

satu dari serangkaian catatan kecil pengalaman terbang pertama kali bersama Trike dan Pak Saleh Sudrajat di 2 Februari 2013 Pagi.

– – – – – – –

aku mulai memikirkan untuk menuliskan semua ini tepat ketika mendapati Langit yang tak juga kunjung membiru bahkan sepi dari Awan-awan justru dihiasi Matahari Mata Sapi. tak ada yang bisa aku lukiskan selain tentang: (1) Sabtu Pagi sepi tak seperti biasa; dan (2) angkutan umum Kalapa – Soreang kedua setelah aku diturunkan pasal Pak Supir yang ingin berbelok arah biar lebih makmur rezekinya. si Cemas mencoba meruntuhkan sebentengan Yakin. sayangnya, ya itu tadi, keburu muncul si Penanda Harapan merobek halus sepanjangan Abu-abu Putih. hari ini pasti akan terjadi, tak ada aral besar akan menghalangi. Mata Sapi di Langit sudah melambaikan senyuman berarti. hari ini pasti akan terjadi.

(foto oleh Kuke)

sejak kecil aku telah didefinisikan sebagai seorang Pengkhayal, dilengkapi dengan atribut ‘aneh’ pasal beberapa kebiasaan yang ternyata diperhatikan orang-orang di sekitar. aku tidak merasa terlalu berkeberatan meski di awal-awal aku selalu pasang muka cemberut setiap kali ‘aneh’ itu dilontarkan. siapa sih yang suka dibilang, “aneh..” atau malah diteriaki, “aneh!”? kalian yang membaca ini saja belum tentu suka bukan? tapi, kebanyakan orang memang terlalu suka menempelkan sembarang atribut dan lain-lain hal pada orang lain, tidak siap jika itu kemudian berbalik ke dirinya sendiri ~_~

sejak kecil aku telah mengakrabi apa yang disebut orang (kecuali Bapak dan Ibu a.k.a Kakek dan Nenek yang orangtuanya Mama) sebagai Dunia Khayalan tanpa merasa terganggu tapi kerap dianggap mengganggu. padahal apa yang aneh dengan “segerombolan Ilalang itu sebenarnya Hutan juga loh. setidaknya buat para Semut.”? padahal apa yang ganjil dengan, “ituuu, si Kucing sudah ngaku kok kalo dia yang telan uangnyaaa.”? padahal apa yang tak biasa dengan, “Langit ga nangis kok. Tuhan yang suruh Hujan turun. kan orang-orang katanya kepanasan.”?

pada akhirnya aku tak terlalu peduli juga dengan penilaian lontaran Manusia, karena ternyata Langit tak pernah berkeberatan menyaksikan apa pun yang aku lakukan dan pikirkan, tak pernah menghakimi. begitu juga para Pepohonan dan Rerumputan, apalagi Angin. hingga aku, meski sejak belasan tahun lalu harus mulai belajar mengakrabi Manusia, tetap lebih merasa nyaman menjadi diri sendiri ketika berdekatan dengan Alam. meLangit, mengAngin, meLaut, berkesatuan dengan mereka sebisa-bisanya tanpa membatasi diri. bukan berarti tak ada Manusia yang bisa membuat nyaman ya. ada kok. hanya saja jumlahnya tak seberapa.

tak banyak yang tahu bahwa ketika kecil itu pula aku pernah punya cita-cita menjadi seorang Penerbang. tak terkecuali keluarga bahkan orang dekatku. mereka tahu aku pernah bilang ingin jadi Dokter. mereka tahu aku pernah bilang ingin jadi Guru Matematika. tapi, aku ingat, di hari itu aku berkata ingin jadi Penerbang ketika Layang-layang yang kumainkan sedang penuh gairah di Angkasa. aku iri padanya. ia bisa melihatku dari atas sana, aku bisa melihatnya dari Bumi. ia sudah pernah melihat apa yang juga aku lihat dari sini, tapi aku belum pernah bisa melihat apa yang ia lihat dari sana! huh! sesaat itu sebenarnya aku ingin jadi Layang-layang saja. sayangnya Layang-layang itu kan tidak diberi kemampuan berkehendak-dan-melaksanakan. maka, kemudian aku pilih ingin jadi Penerbang ketimbang Layang-layang. karena Tuhan menciptakan pula sepaket di dalam diriku ini kemampuan: berkeinginan, berkehendak, belajar, melaksanakan.

tahun berganti tahun, usia saling tumpang tindih bergantian, ‘menjadi Penerbang’ tampaknya harus menerima kenyataan bahwa aku lebih memilih untuk sepenuh-penuhnya membekali diri agar layak menjadi seorang Pengajar (yang masih juga berkeinginan lulus uji sebagai seorang Pendidik hingga detik ini) di luar kesenanganku melakukan-menikmati-dan-merekam berbagai Perjalanan. tapi, aku tak membuang kesukaanku meLangit. setiap berkesempatan merasakan sebagai Penumpang dari sebuah Penerbangan Komersil, aku akan bersikeras bisa duduk di dekat Jendela Oval, melahap habis pemandangan di luar Pesawat sampai kadang-kadang terlupa merekam atau malah sebaliknya terlalu banyak merekam. meLangit pun tak pernah kulupakan sebagai Ritual Utama keseharian, apapun kondisi yang sedang melekat padanya. aku akan ‘terbang’ dengan cara kesukaanku, tergantung pada saat itu aku sedang menjadikan diriku apa/siapa, tanpa ada yang bisa mengganggu gugat. sangat fleksibel sekali dan sangat-sangat mengundang perhatian juga komentar dari sesiapa saja yang melihat. tapi, aku tak terlalu peduli. toh aku sedang memenuhi kebutuhanku sendiri. dan sepanjang itu tidak mengganggu proses orang lain memenuhi kebutuhan dan kepentingannya pula ya berarti aku tidak merugikan.

 eh, tapi ya, Kuk, apa kamu benar-benar sudah merasa cukup dengan meLangit seperti itu? tak pernah benar-benar ingin ada di atas sana dan mengamati seluruh permukaan Bumi langsung dengan tubuhmu? tak pernah benar-benar ingin merasakan macam apa kecepatan libasan Angin di Angkasa situ?

*bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s