karena kami ingin kau turuti: tidurlah..

Kata-kata sedang minta diendapkan, lalu memintaku bersegera kembali khusyuk dalam tidurku saja. katanya, “memang sejak kemarin hanya itu yang aku dan seisi Semesta ini ingin agar kau lakukan. kau mungkin tak sadar sedang lelah, namun pada kenyataannya kami semua mengetahui kau sedang teramat sangat lelah. tidurlah. bahagia yang sudah Kekasihmu berikan itu jadikanlah peneman dalam rangkaian-rangkaian damai dan mimpi indah. tidurlah. segera kau akan paham kenapa harus saja kau turuti aku dan kami dengan semestinya. Angin Kecil-ku yang keras kepala, sudah, tidurlah.

sekilas kujenguk senyuman Kekasih yang mengantarkan aku hingga seberang agar bisa pulang. belum aku lupa pula sentuhan hangat dan kecup lembutnya yang menutup Malam lalu mengundang Pagi hingga menjalarlah rasa tenang. “jangan bandel ya. istirahat. gw rapat dulu.“. dan lambaian sebungkus Bubur Kacang Ijo hangat membiarkan kami terpisah untuk sebuah pertemuan di entah keberapa kali nanti berikutnya.

Kata-kata dan Kekasihku sudah bertitah. Semesta menarikkan selimut agar gigilku mereda. tak ada alasan aku tak menuruti mereka. lelaplah, Angin. lelaplah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s