pada masa sebelah Bulan

aku kira Bulan bercanda saja pasal kedatanganmu yang akan lebih segera ketimbang sebuah pernyataan rasa terdekat di sepanjangan malam memuncak. terus saja kulumat keindahannya tanpa berniat mengambil nafas jeda. belum tentu esok semua masih sama. apalagi siapa yang tahu perihal kedatangan si Maut berikutnya.

aku kira Bulan membual saja pasal jawaban-jawaban rindu yang akan segera memenuhi Udara. terus saja kukagumi Planet dan Bintang yang makin ramai mengusir kesepian pendar-pendar masih jauh dari sebuah Purnama. sampai kemudian kau — si Tuan Belum Bernama — mengabarkan begitu saja sinar dalam matamu yang tak membiarkan meluapnya sepi dan hampa.

aku kira Bulan hanya menggoda saja. aku pikir kau pun mencandai penantianku semata. pada masa sebelah menjelang Purnama, Bulan dan kau menggenapkan terisinya sebuah ruang yang masih selalu kupercaya hanya kuperuntukkan bagi Cinta dan Bahagia. ya, untuk keabadian damai Cinta dan Bahagia saja. selamanya.

– – – – – – –

untuk keindahan Langit, Malam, Bintang, Planet, dan Bulan, serta kau yang lagi-lagi datang membawa jawaban atas kerinduan.

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s