aku, Hujan, dan Pagi. dalam bisu.

Pagi belum beranjak dari Kasur. punggungku menghadap dan bersandar padanya, hingga nafasnya menghangati tengkuk. samar terhirup aroma lembut Tanah membasah bersamaan lamat-lamat merdu. Pagi masih terus memelukku. dengan sayang, dalam bisu, sampai kemudian Hujan datang ke hadapan, mengecup hikmat kening dan mata milikku, menyentuh punggung tangan si Pagi, diakhiri dengan rebah turut memelukku. hingga sesaklah Kasur kini dengan aku-Hujan-dan-Pagi yang saling bersatu serta serempak menarik rapatkan Selimut. mata terpejam, kami bertiga memilih bicara penuh kasih, dalam bisu.

– – – – – – –
Bandung. Pagi. dengan dingin dan samar Hujan yang tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s