bukan selarik kenestapaan

bisa kurasai gigil tubuhku dan penat yang mungkin tak tepat juga jika kunyatakan sebagai penat. Subuh yang datang bersama gema Adzan bukanlah hal pertama yang membangunkan. entah sudah berapa lama aku tak bisa lepas dari Tidur Pengikat. entah sudah berapa juta detik kuhabiskan dengan pikiran meraba-raba apa yang sebenarnya sedang kulihat. entah sudah berapa titik Air mata yang menemaniku selain kehangatan yang berusaha diberikan selembar Selimut cadangan, si Ndut boneka setia, juga sebentuk kerinduan yang begitu tak bisa lagi kukategorikan ada di lapis mana.

aku kangen Bapak. aku kangen Ibu. aku kangen ditemani dengan baluran hangat Kayu Putih di punggung. aku kangen dikasihi dengan pijatan lembut di sana, juga di pundak, kepala, tangan, hingga kaki. aku kangen Nasi Kepel buatan Bapak yang kerap jadi Perayu dalam ketakinginanku menerima makanan apa pun meski aku paham itu untuk kekuatanku sendiri. aku kangen Bubur Kacang Hijau buatan Ibu atas permintaan Bapak biar tak makin lemah aku karena tak mau apa pun didekatkan dan disematkan, bahkan butiran-butiran Pil Dewa. aku kangen setiap bait cerita dongeng atau pun kisah nyata milik mereka. aku kangen usapan lembut keduanya yang sering mampir di kepala. pernahkah ada yang percaya bahwa kehadiran dan perlakukan macam itu lah Obat Mujarab sesungguhnya?

bisa kuhirupi dinginnya Udara yang melingkupi luaran tubuhku yang bergegas merapuh tanpa si Sumber Cahaya. bisanya aku berharap tapi tak tahu akankah di masanya terang nanti Matahari akan ada memberiku keleluasa mengisi ulang tenaga atau justru sebaliknya. entah sudah berapa lama aku tak bisa duduk dengan benar untuk mencurahkan ini semua. entah sudah berapa juta detik kuhabiskan dengan diam yang lama-lama berairmata. entah sudah berapa kali panggilan kulayangkan pada sesiapa dipercaya yang bisa segera melesat tiba, lalu di menit berikutnya mereka masih berupa hampa.

aku kangen Bapak. aku kangen Ibu. aku kangen dipeluk dan diciumi lembut setiap kali aku tak bisa mengendalikan Api dalam tubuhku terus berkobaran entah sampai mana tinggi. aku kangen dihadiahi kenyamanan hati hingga tak perlu risau menutup mata, menerima mati yang sementara, biar terbangun dalam ringan dan senyum keesokan harinya. aku kangen butir Bawang dan aromanya memenuhi tubuhku, bahkan selembaran Daun yang aku lupa namanya namun tak bisa dihilangkan aroma uniknya dari ingatan si hidung. aku kangen keduanya lebih dari apapun. aku kangen keduanya lebih dari siapapun. aku mau keduanya turun dari atas sana dan biar diam dulu di sini sementara, menemaniku. ya, menemaniku.

bisa kunikmati Waktu yang membiarkan aku tak terbius total hingga gigitan-gigitan di seluruh Tulang tak luput terasa. bisa kuterima utuh keseluruhan lara dan kubenamkan dalam diam tak terkira. entah apakah Tuhan akan membiarkan aku bahagia, lalu menghadirkan Bapak dan Ibu segera di kiri kanan memelukku tanpa jeda. entah apakah Tuhan akan membiarkan Kerinduan mampu melihat kembali wajahnya dalam batas moksa. entah. entah. aku hanya tahu ingin segera didekap. oleh Ibu. oleh Bapak. segera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s