Namaku: Angin

sesungguhnya aku selalu tahu arah mana harus kutempuhi sebagai jalan kembali. sebenarnya aku tak lupa tiap sudut lekuk dan kelokan Bumi yang sepi bahkan ramai Pepohonan rupa-rupi. dan tak pernah Batari Ibu mengekangku dengan Pagar-pagar Waktu yang sempit. dan tak pernah Poseidon sibuk meniupkan Penanda Makan Pagi-Siang-Malam agar aku jangan sampai lebih suka menurutkan rasa sukaku mengitari penuh ini Bumi. dan tak pernah seluruh Ilalang yang hidup sejak muda mencapai tua terlupa menarik lenganku biar tak cepat-cepat berlalu dan baru bertemu lagi entah kapan hari. tak pernah pula aku diharuskan menciumi Ujung Cakrawala apalagi kamar ternyaman di Rumah ku yang di masih menunggu dengan hati murni. tak pernah. tak pernah. adanya mereka hanya terus membiarkanku menari pergi. kadang berlari, kadang berputar, kadang diam sepi, lalu lanjut lagi bernyanyi.

sejatinya aku selalu tahu jalan mana harus kulalui jika Tuhan sedang memperbaiki segala rutinitas biar aku tak bosan lalu mendadak mati. sebenarnya aku masih selalu suka lihat-lihat kanan lalu kiri, dan sesekali berputar depan belakang bawah atas sesuka hati. dan tak pernah Tuhan kemudian cemberut murka padaku lalu menutup tirai dan menghentikan detik. Tuhan hanya tersenyum, selalu begitu manis, tersenyum menyejukkan lelahnya wara-wiri. mungkin itu semuanya karena namaku: Angin ~_~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s