bila pagiku di Manglayang

ada Peribahasa melekat kuat di dalam ingatan kepala: di mana Bumi dipijak, di situ Langit dijunjung (dimanapun berada, maka kita haruslah mengikuti/menghormati adat istiadat di tempat yang disinggahi/ditinggali tersebut).

lalu bagi diriku sendiri, aku menambahkan satu pengertian yang kujadikan keyakinan mendasar: bahwa di setiap tempat dimanapun itu ya akan selalu ada masing-masing keindahannya, tak ada yang sebenar semutlak sama antara kota A dengan desa B bahkan negara C .

sudahlah aku disaksikan si Mungil Jamur dan Rerumputan yang digelayuti Embun di Jayagiri ketika mengagumi Langit kala terbit si Matahari. dan kini, ternyata Manglayang memberikanku keindahan yang lainnya lagi. sampai Kata-kata seperti menguap terikut bergeraknya Udara yang terdengar bagai Nyanyian Pagi yang lebih abadi dari Pagi itu sendiri.

(foto oleh Kuke)
(foto oleh Kuke)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s