Desember. Pagi.

hai, apa kau sungguh kenal Desember? kalau aku, inginnya aku jawab dengan penuh keyakinan dan membusungkan kebanggaan bahwa aku sangat sangat sangat mengenalnya.

sayangnya, tak bisa aku mudah berkata. waktu setitik Hujan singgah di satu titik tengah kepala, aku sadar keberadaannya yang bahkan mengalahkan kehangatan Matahari yang sebiasa-biasanya ada.

ah, apa aku masih sungguh kenal Desember? karena dalam ketiadaan Matahari dan kungkungan dingin basah, seringnya aku tak terlalu awas memahami sekitaran yang ada.

sibuk sendiri bersembunyi, bergegas, bersembunyi, belum tentu sungguh mencermati setiap sudut Desember yang ingin kuakui begitu sangat kukenal.

nah, apa kau sungguh kenal Desember? kalau aku, saat ini lebih baik menjawab dengan raut jujur bahwa aku tak terlalu mengenalnya sebaik-baik Tuhan yang meningkahi.

biar saja. tak apa. pikirku tak akan jadi salah dengan mengakui ketidaktahuan sendiri. kesadaranku lebih berharga ketimbang keinginan diakui bahkan oleh Desember itu sendiri.

aku masih tak terlalu kenal Desember. mau kujawab “belum” pun aku seperti tak yakin punya nyali. belum tentu aku bertemu lagi dengan Desember yang nanti ~_~

– – – – – – –

*Bandung. Pagi. waktu antri mandi. di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s