berkunang-kunang

aku berkunang-kunang. setengah berkesadaran, setengahnya lagi teramat ingin menjerit kesakitan. aku tak mau memikirkan ini akhir dari semua yang belum tepat tujuan. iya, aku memikirkan kembali tujuan. semacam ada hal-hal yang belum sepenuhnya terselesaikan. dan aku tak boleh semudah ini padam.

semua yang mengganggu di kiri-kanan bahkan depan-belakang lintasan sedang aku abaikan. ini hidupku. dan usia sungguh bukan untuk membiarkan diri berkesengsaraan. meski terkadang bukan hanya pada diriku semata terletak kebahagiaan.

aku berkunang-kunang. Hujan masih terus berlarian, tak memaksa mengajakku berpelukan. Langit menutupi sekujur tubuhku dengan Selimut Awan. Angin menghenti Udara mengitariku berupaya kehangatan. kesemuanya bersekutu memberiku nyawa.

Batari Ibu, jika Tuhan menghentakkan panggilan, tolonglah rayu Dia agar membiarkanku melarung pulang ke tempat kesukaan. karena kau satunya yang paham di sana cinta sudah kutempatkan tak berkesudahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s