ini siang Halilintar

sepertinya Halilintar sedang sangat bersemangat. awalnya hanya selintasan. lama-lama ia berlarian. tak dipikirkannya Awan-awan. ia hanya terus berlarian. bisa jadi menabrak Bukit. bisa jadi menghasut Gunung. bisa jadi membakar habis Pepohonan yang terlupa pakai Penangkal dan Payung. tertawa-tawa itu Halilintar meninggikan sebentuk agung yang terlalu lama mengendap dalam kurung. selama ini sabar hingga tak ayal memurung.

tampaknya Halilintar sedang sangat ingin didengar. dipekakkannya telingaku berkali sambil terus memaksa aku meninggalkan keterikatan dengan benda yang membuatku asing dari Hujan. kutarik saluran daya biar tak berlompatan percik Api hingga ke dalam. kubuka pintu biar terbuka jalan. begitu kulongokkan kepala sambil tersenyum riang, Halilintar meliuk sekali lagi dan dentamkan dua Awan tanda berbaikan.

Halilintar.. Halilintar.. apa gerangan yang membuatmu terkuak riang? semata Hujan? atau ada tugas mulia dari Tuhan? sini. perdengarkan suaramu dan perlihatkan sudah itu tarian. aku tak akan berpaling. siap menerima apa yang ingin kau kisahkan. tak peduli meski aku melanggar aturan sebagai Tahanan Kamar.

– – – – – – –
Bandung, 28 November 2012 – lewat 12 menuju 13 siang, waktu masih jadi Tahanan Kamar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s