meniti Hasta Brata

aku mengalir tak asal. aku mengamati dalam dan diam. aku menelusup, tak melewatkan bahkan sudut titik terliku di sembarang kekapanan. pun tak berkeberatan mendengarkan kau sebentar, lalu kembali samirana. tersenyumlah padaku, tak akan kusia-siakan kesemuanya itu. dan satu hal perlu kau tahu, namaku: Angin!

tapi bagaimana jika dalam wujud Manusia aku berinti Rembulan? tak mungkin kusalahkan Ibu dan Ayahku yang menitipkan harapan. meski tanpa sadar, jadilah Tuhan menghadiahkan keberkahan. sepasang mata, sepasang telinga, seutuh jiwa raga, aku tak bisa mengabaikan keindahan Semesta dan keseluruhan Bahasa juga merdu Nyanyian Alam. Ayat-ayat Kehidupan membentang minta dibaca. Ayat-ayat Kematian menggelisahkan sampai ruah aku muntah.

namun sejauh-jauhnya mengalir, aku ingin terus dihadiahi kesabaran, kelapangan hati, juga kesahajaan. aku ingin menelan seluruh kedukaan nestapa Semesta, lalu melahirkan bahagia tak berkesudahan. menjadi Laut yang ada kalanya mampu bicara lebih banyak (ketimbang Angin) dalam diam. menjadi anak Batari Ibu dan Poseidon yang memasak di Dapur Ujung Cakrawala seharian.

***

inspirasi: Pusaka Hasta Brata, Wahyu Makutharama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s