waktu Malam mengisahkan sebuah pengkhianatan

Malam membangunkan. lalu tanpa merasa bersalah justru menceritakan perihal sebuah pengkhianatan. dipicu oleh sebentuk keyakinan, keraguan, juga ketakutan sebentuk perempuan akan hati seorang lelaki dan perempuan lainnya yang telah dimenangkan. perempuan yang lupa bahwa sendirinya sangat tak berharap mengalami pengkhianatan. aku membalas dengan diam. sama seperti ketika Langit menutup rapat-rapat mulut Pemuda Pohon dan Nona Kabut sampai Kaum Rerumputan. aku merasa lebih baik diam. karena bukan aku yang meretaskan sebuah pengkhianatan. Ah, ya, Malam. apa aku boleh minta diceritakan kabar yang lebih indah dibanding sebuah pengkhianatan?

aku tak mungkin menyalahkan Tuhan yang sesekali memberitahukan Rahasia sehingga ia berganti nama. aku tak mungkin memarahi Langit hanya karena kejujuran Malam bahkan Semesta. sekeras apapun diriku membentengi diri dengan setia, ternyata ada saja entah sesiapa seperti tak terpuaskan dengan apa yang sudah dimilikinya lalu tak terima pasal apa yang baru saja singgah menjadi kupunya. kenapa? apa aku terlalu buruk untuk menerimanya?

Malam mendadak tergugu meski berusaha kerasa agar jangan sampai Hujan terbangunkan. sudah kubilang, aku tak menyalahkan. namun tetap saja Malam tertekuk muram pasal ketakmampuan menahankan sebuah kejujuran yang disembunyikan. mungkin akan ada pengulangan demi pengulangan yang harus aku upayakan biar Malam bisa melalui seputaran detik ke detik hingga jam berikutnya dengan tenang. Malam merasa bersalah pasal sebuah pengkhianatan. padahal tak ada yang aku salahkan. geram Belati tak jadi aku tancapkan ke tubuh itu perempuan. diam saja yang aku kedepankan. bukankah ulur pengkhianatan tak sesegera itu mengesahkan kejahatan sebagai ganjaran balasan?

Malam membangunkan. lalu tanpa sungkan malah membeberkan perihal sebuah pengkhianatan. dipicu oleh sebentuk keyakinan, keraguan, juga ketakutan sebentuk perempuan akan hati seorang lelaki dan perempuan lainnya yang telah dimenangkan. perempuan yang lupa bahwa sendirinya sangat tak berharap mengalami pengkhianatan. aku membalas dengan diam. sama seperti ketika Langit menutup rapat-rapat mulut Pemuda Pohon dan Nona Kabut sampai Kaum Rerumputan. aku merasa lebih baik diam. karena bukan aku yang meretaskan sebuah pengkhianatan. Ah, ya, Malam. apa aku boleh minta didongengkan cerita yang sama sekali tak menghampiri ingatan tentang sebuah pengkhianatan?

setidaknya tolonglah biarkan aku melupakan ketaksukaan dan ketakpercayaanku pada itu perempuan. setidaknya tolonglah muluskan agar dendam jangan pernah singgah ke jiwa ku sebagaimana telah aku niatkan.

aku berdoa agar Tuhan tak memberikan Mimpi-mimpi Buruk pada Malam. tak ada yang harus menanggung kesalahan. tak ada yang harus menanggung ketidaksengajaannya menyaksikan. Ah, ya. apa kau mau aku peluk, Malam? sudah, lupakan saja. aku lebih suka membalasnya dengan diam. lalu membantumu menghilangkan ingatan tentang sebuah pengkhianatan.

anicca vata sankhara, uppada vaya dhammino, uppajjitva nirujjhanti, tesang vu pasamo sukkho.

tidak kekal, segala yang berkondisi/saling bergantungan. semua disebabkan karena melekat pada kelahiran dan kelapukan. setelah timbul, semua itu akan lenyap kembali. dengan berhentinya kemelekatan akan didapatkan kebahagiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s