Selembar Dompet Lipat

Kuke: waktu lagi lihat-lihat Langit Biru

Aku teringat padamu. Ketika Langit tengah sibuk mempertahankan Biru yang selalu membuatku berlagu, aku teringat padamu. Entah kenapa malah kurogoh salah satu saku di celana panjangku untuk sekedar memastikan masih ada berapa lembar uang yang bisa aku jadikan sandaran pikirku. Ah, ada. Ada dua lembar Biru Limapuluh ribu. Bisa. Aku masih bisa memperoleh sebentuk hadiah yang tak jauh-jauh dari ingatanku akanmu. Selembar dompet lipat pasti masih jadi impianmu. Aku tahu itu tak akan pernah berubah meski terjemput akhir umur pula nanti dirimu. Aku sepertinya memang benar-benar teringat padamu. Padahal aku sedang asyik-asyik melahap Langit yang Biru.

* * * * *

Udi: waktu dia lahir

Mereka bilang makhluk mungil yang suka bergerak-gerak dan hanya bisa menangis itu bernama bayi. Susah menemukan padanan warna yang tepat untuk tubuhnya. Baru sekali ini aku melihat bayi langsung. Sebelumnya aku hanya melihatnya di tipi (baca: televisi).

Mereka menyebutkan nama yang panjang buat aku ingat. Ya untuk si bayi. Aku mendengarnya waktu Bapak dan Ibu sibuk mencium dan membelai-belainya dengan hati-hati sekali. Sampai akhirnya aku dengar satu singkat yang mudah kurapalkan pelan-pelan dalam hati. Kuke. Kuke. Kuke. Seperti Udi. Udi. Udi. Anehnya tiba-tiba dia melihat ke arah sini. Bahagia dan terkekeh-kekeh sendiri. Lalu dengan tak ada satu pun kecuali aku yang menyadari, bayi mungil itu tersenyum manis sekali.

* * * * *

 Udi: waktu dia hilang

Kuke hilang! Bapak cari-cari, panggil-panggil sampai ke jalan. Ibu tanya-tanya ke Nenek Sam dan Kak Niar. Mbak Ai lagi pergi ada pekerjaan. Kuke hilang! Padahal biasanya dia main-main saja di halaman atau tidur siang di depan tipi bersamaku.

Kuke hilang! Bapak menahan marah. Ibu hampir menangis. Aku keras berpikir sampai melihat ke bawah-bawah mobil.

“Paaakkk.. Buuuu.. Kuke di siniiiii!!”

Aku berteriak sekuat hati. Aku berharap mereka dengar dan mengerti. Aku tak lupa melindungi kepala mungil yang sedang lelap dan pasti sedang asyik bermimpi. Bermimpi sedang main perang-perangan dan berlindung di bawah Tank Tempur seperti di tipi.

“Paaakkk.. Buuuu.. Kuke di siniiiii!!”

Bisa kudengar langkah-langkah cepat setengah berlari mendekati. Juga bisa kudengar keheranan mereka semua kenapa si Kuke bisa sampai ngumpet di tempat berbahaya seperti ini.

* * * * *

Udi: dia kirimkan dompet!

Hari ke hari senyum itu tak cuma sekedar manis. Hari ke hari senyum itu aku pikir seadanya senyum Bidadari. Aku sudah pernah bertemu Bidadari. Ada di Pohon Mangga, Pohon Belimbing, bahkan di pintu masuk Taman Ria dan Medan Fair. Di kantor Bapak juga sering. Tapi menurutku semuanya kalah Bidadari. cuma dia yang punya senyum Bidadari.  Dan hari ini aku dikirimi selembar Dompet Lipat oleh Bidadari. Keponakan kecilku itu sudah menjelma jadi Bidadari.

Bidadari. Bidadari. Kuke. Bidadari. Bidadari Udi.

 * * * * *

Kuke: buat Om Udi

Apa kabarmu di sana, Om Udi? Dompetnya sudah sampai? Aku menyayangimu.Tak berubah. Sejak dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s