Mantra Pemanggil Kata

Sepertinya aku perlu Mantra Pemanggil Kata. Eh, bukan bukan. Tampaknya kurang tepat jika ‘sepertinya’. Aku sungguh-sungguh butuh Mantra Pemanggil Kata. Itu tak bisa lagi ditolerir dan ditunda-tunda. Pasal apa? Semua karena kamu saja. Tak boleh sampai kecewa hanya karena aku terus-menerus kehilangan Kata-kata di setiap kita berjumpa. Bagaimana bisa aku membiarkan senyummu hilang hanya akibat ketiadaan Kata? Aku tak rela. Tak akan pernah rela.

Sedetik. Dua detik. Di detik ketiga dan detik-detik berikutnya aku tahu kau akan segera tiba dihadapanku dengan sapa yang begitu ceria. Senyummu akan jadi penawar panas dan hujan yang bergantian bersanding tanpa pernah aku minta. Aku kehabisan akal dan terus saja merogoh saku kemeja, laci-laci ransel, bahkan lipatan rahasia di sepatu yang sebentar lagi menganga. Aku mencari Mantra Pemanggil Kata. Abah Taji sudah memberiku lariknya. Tapi aku yang awalnya tak mau percaya kini kena getahnya. Aku tak rela. Tak akan pernah rela. Jika aku sampai sekali lagi ditinggalkan Kata-kata tepat ketika kau tiba.

“Ranuuuu..”

Aaah. Aaargh! Kau terdengar menembus udara seperti biasa. Dan aku masih belum menemukan itu Mantra Pemanggil Kata. Entahlah, entah harus bagaimana. Sepertinya.. errr.. apa aku harus kembali pasrah saja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s