untuk November milik Mama

Bandung, 1 November 2012

sudah berapa tahun kau menjadi ibuku, Ma?

~ tiga puluh lima tahun mendekati tepat sepertinya.

sudah berapa lama kita bergandengan tangan lalu terlepas lagi sekejapnya? 

~ jika dikalkulasi, hampiri kanan – hampiri kiri, jumlahnya tak lazim diterima.

aku tak banyak menemanimu berbelanja, Ma. sejujurnya aku tak suka. mungkin karena kita berbeda. dan begitu berat buatku menerima Waktu melampaui seratus menit dihabiskan untuk berkeliling Pasar Segala Ada. aku pikir bukan karena alasan usia dan status sosial penyebabnya. aku benar-benar tak bisa terlalu suka. pada berbelanja. pada tawar-menawar. pada mencari-yang-termurah. pada kepentingan yang menurutku tak sebegitu perlunya menjadi kepentingan. tapi, Ma, sekali-sekali bolehlah. sini aku temani sampai habis napas pun tak apa. asal kau bahagia. dalam ketakseringan kutemani kau menjelajah. asal kau bahagia.

aku tak bisa bilang betapa aku paham corak Kain, model Sepatu, sentuhan Tas, apalagi Cemilan yang kau suka, Ma. satu kali kupikir kau akan menerima Merah dengan segala kebersahajaan tanpa banyak kerlap, ternyata tak pernah kulihat kau memakainya, teronggok kadang-rapi-kadang-tidak di sudut terdalam Lemari Kayu saja. satu kali kupikir kau akan meramahi kesederhanaan mewah bermotif Kebudayaan Jauh dari seberang Negara, ternyata tak pernah kau bawa dia bersama selain diam di Meja Tulis milik Papa, diragukan pula selalu ada isinya. satu kali kupikir kau akan menyenyumi Alas Kaki Unik Cantik biar sepasang telapakmu tak perlu jadi alasan penyebab rasa tak enak di badan, ternyata tidak juga, lagi-lagi aku mendapatinya tergugu pilu di sudut Gudang dan aku tak tahu harus bilang apa. lalu apa kau suka Bunga? ah, bahkan Bunga yang kutangkap berbantukan si Ungu dan lensa pun tak sampai menarik puji dan pinta dari bibirmu yang kutunggu-tunggu entah sudah berapa lama. jadi bagaimana? aku sepertinya cuma bisa menatap Langit, berharap Hujan, berakhir geleng-geleng kepala. jadi harus bagaimana?

 ini hari kau awali dengan apa, Ma? dalam ingatanku segelas Kopi Susu dengan takaran tak terbantah sudah pasti jadi bagian utama. entah apa akan berharga atau berlalu sama saja seperti sekotak Cookies Coklat yang kau suruh aku bawa pulang, aku cuma punya sekalimat terbata: happy birthday, Ma. sisanya, kuserahkan pada hatimu saja. semoga kau selalu sehat dan bahagia. semoga kau selalu menerima banyak keberkahan yang cuma bisa kusampaikan pada Tuhan berbantukan Kata-kata.

sudah berapa tahun kau menjadi ibuku, Ma?

~ tiga puluh lima tahun mendekati tepat sepertinya.

sudah berapa lama tak kulupakan hari kelahiranmu yang tak bisa ditampik keagungannya?

~ dalam ingatanku, aku tak pernah sekali pun menghitungnya. aku hanya berusaha keras tak mengalpakannya.

salam hormat atas nama cinta,

~ kuke

P.S. : maaf, aku bukan anak perempuan yang romantis..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s