ketika Malam tak mau padam

ah, ya. kau membiarkan aku geram pada Malam yang tak mau padam. kuancam dengan Lilin, kurayu dengan Rembulan, kuiming-imingi Lampu Kabut bahkan Camilan, tetap saja tak mau padam. jadi bagaimana? harus kuapakan? masa iya harus kudatangkan Dewa-Dewa Tertampan agar Malam bersedia mengangkat kaki dari terang?

ah, ya. kau membiarkan aku gamang pada Malam yang tak juga mau padam. kusenyumi dengan Embun, kuhangati dengan Matahari, kugairahi dengan Angin bahkan Kain Putih Meteran, tetap saja tak mau si Malam padam. jadi bagaimana? harus kuapakan? masa iya harus kuhidangkan Anggur-Anggur Terlarang agar Malam bersedia terbang menjauh dari Bintang?

ah, ya. ya. kau membiarkan aku lunglai pasal Malam yang membandel tak mau padam. aku hilang akal. aku sampai hilang akal. bergerak mengharam. hilang akal. mengharam. pasal Malam. yang tak juga mau mau padam. ah, ya. ya.

– – – – – – –

Bandung. berlarut Malam. terbangun dan susah kembali padam. sebenarnya aku yang susah kembali padam. di tiga puluh di ujung dua sembilan. hiyaaa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s